Filed under: Documentaries
Silahkan klik link-link dibawah ini untuk lihat beberapa kegiatan yang ku kerjakan di perancis selain kuliah…..
Cerita tentang perjuangan PPI-Nantes di ajang futsal.
Cerita tentang partisipasi PPI-Nantes di festival bahasa dan budaya Lannion 20120.
Terimakasih.
Filed under: Thoughts
Satu-satunya cara mempermudah, saya rasa adalah dengan maju bersama. Saling mengingatkan, saling memperkuat, saling membantu……….kita-kita ini…………..yang ingin Indonesia jadi negara yang adil dan makmur…………
Filed under: Uncategorized
ketika aku pulang,
aku berjumpa denganmu dan kawan-kawan,
mentari terbit sebagaimana biasanya namun kali ini begitu indah citranya,
panasnya udara akan menjadi penyapa setia,
hingga nafas menjumpai batas,
semua akan berlalu baik,
terimakasih telah menunggu,
kemarilah peluk aku,
Ils retournaient par un train...avant, il faisait pluie... Elle: qu'est-ce que tu pense en ce moment? Lui : ce serait très beau si dans la future, au lieu de nous sommes être deux personnes avec deux parapluies, nous pourrions être deux personnes avec une parapluie seul Cela, ce qui s'est passé....
Apa itu EMN? Klik disini
Itu adalah, tempat saya akan kuliah lagi mulai september 2011 sampai July 2013. Sebetulnya ketika aku daftar kesana pada Desember 2010, aku dapat penolakan di bulan Januari 2011. Tapi kok akhirnya bisa diterima?
Memang aku dulu sangat ingin kuliah disana, karena kalo kupelajari syllabus nya sepertinya itulah jurusan yang sangat tepat untuk menunjang orientasi masa depanku. R&D Director of an Indonesian Energy Company. Paling tidak itu yang aku tulis di surat motivasi.
Sebagai mantan pencinta video game, FF VII adalah sebuah game RPG yang paling berkesan dan semua penggemar video game pasti mengerti kenapa. Aku senang, karena secara tidak sengaja pilihan hidupku sedikit menyerempet kisah game tersebut. Bedanya disana Shin-Ra adalah perusahaan energi yang tidak ramah lingkungan malahan kegiatannya mengancam keberlangsungan planet bumi. Sedangkan, konsep sustainability development (environment, social, and, economy) menjiwai perkuliahan EMN. Ini yang membuat aku sangat bersemangat.
Akhirnya aku bertemu seorang perwakilan dari EMN, dan aku minta tolong ke dia bagaimana ya karena aku sangat ingin kuliah disana. Proses yang lalu aku lakukan, adalah aku disarankan ‘memaksa’ mereka dengan surat banding (appeal letter) untuk menunjukkan motivasi dan justifikasi mengapa aku layak diterima. Dilengkapi pula dengan rekomendasi dari para alumni-nya, plus, satu surat referensi dari sebuah perusahaan yang mempromosikan saya sebagai seorang yang berpotensi dan ditunggu untuk berkarya setelah menimba ilmu. Setelah men-draft surat tersebut selama 1 minggu dibantu edit oleh si perwakilan tadi, 2 minggu setelahnya saya ditelepon bahwa saya diterima. Wuah luar biasa sekali perasaannya saat itu. Ternyata memang perlu sedikit memaksa untuk berhasil dalam hidup.
Mungkin kalo saya ditolak oleh cewe, saya harus bikin surat banding juga ya dan minta rekomendasi dari orang-orang dilampirkan agar dia percaya. Haha.
Filed under: Thoughts
Nikmatnya jadi Mahasiswa, sampai jadi lupa apa perannya. Saat saya menulis ini saya bukan Mahasiswa, tapi alhamdulillah calon Mahasiswa. Saya mau bicara tentang para Mahasiswa seperti dulu saya.
Tadi siang menjelang pergi les di CCF, saya melintas kampus ITB. Sambil melihat dan menerawang para Mahasiswa disana, saya jadi teringat jaman dulu. Karena asam-garam yang saya punya sekarang, saya jadi punya pandangan baru dibanding dulu. Peran Mahasiswa? Ya untuk belajar, mendalami ilmu sesuai bidangnya agar nanti bisa berkarya sebaik mungkin untuk kesejahteraan masyarakat. Apakah dulu saya paham betul itu? Tidak terlalu. Hanya 2,5 tahun dari 4,5 tahun saya berkuliah di ITB saya fokus belajar. Sisanya? Mungkin, diantara semua permainan pingpong, bridge, cerita cinta, rapat kaderisasi, tekanan tugas-tugas, mangascan, dorama, forum rileks, bergaul, dll, arti peran tadi terlupakan.
Peran Mahasiswa, tentunya menuntut keseriusan tingkat tinggi dalam belajar. Kenapa? Karena tentunya masyarakat berharap akan karya-karya berkualitas tinggi yang hanya mungkin dihasilkan oleh seorang ahli. Tidak mudah untuk menjadi seorang ahli, butuh pengorbanan dan usaha keras. Namun, siapapun mampu sebenarnya asalkan dia mau. Benar-benar mau.
Saya beberapa kali melihat kasus seseorang gagal dalam perkuliahannya. Dan saya sedih, hal ini adalah indikasi ada masalah dalam sistem pendidikan. Siapakah yang salah? Menurut saya ada dua.
Mahasiswa, terkadang masuk satu jurusan tanpa paham betul arahan profesi dari jurusan tersebut. Masalah muncul ketika ternyata jurusan tersebut sangatlah sulit ilmunya. Tanpa motivasi yang kuat, dia bisa menjadi gagal mendapat nilai bagus atau bahkan DO. Bayangkan bila memang hasrat seorang mahasiswa sesuai dengan jurusan yang dia ikuti, tentunya tanpa disuruh pun dia akan membaca text book, masuk ke perpustakaan, berlatih mengerjakan soal, melakukan proyek-proyek penelitian, dsb. Saya berharap di masa depan, kita akan lebih sering dan lebih awal bertanya pada para siswa SMU khususnya, KAMU MAU JADI APA? Dan seperti sekarang yang terjadi di ITB semakin banyak pecahan program studi, menurut saya ini bagus asalkan mereka juga buat brosur-brosur informasi yang bagus dan jelas agar para calon mabahsiswa tidak kebingungan. Jadi para calon mahasiswa semakin mudah memilah-milah arahan profesi dan mencari yang paling sesuai dengan cita-cita mereka. Sistem matrikulasi juga bagus, karena mereka jadi punya kesempatan kedua untuk mengevaluasi pilihan mereka. Apalagi setelah jadi bagian civitas akademis pastinya punya akses informasi yang lebih baik akan identitas tiap jurusan yang ada.
Dosen, haruslah berkomitmen untuk menjadikan mahasiswanya berhasil. Tidak boleh ada lagi dosen yang mangkir dari kewajibannya menjadi seorang pengajar dan pendidik yang mumpuni. Dulu saya tahu, ada dosen yang membosankan, jarang datang, tidak bisa memotivasi, dll. Itu semua adalah malpraktek yang fatal. Para mahasiswa adalah benih-benih unggulan yang penting bagi bangsa. Kalo potensi mereka disabotase oleh para pengajar yang tidak kompeten ini sama saja dengan kejahatan. Dosen pun harus mau meluangkan waktunya untuk menegaskan pada tiap Mahasiswa, bila memang bukan ini jalan hidup yang kamu mau silahkan ganti, NO HARD FEELING. Saya terinspirasi oleh seorang professor teknik material di MIT. Yang mana pada satu hari bukannya mengajarkan materi malahan berpidato tentang peran seorang insinyur. Tapi dia menekankan, bahwa pada saat itu, yang paling penting dilakukan tiap-tiap mahasiswa adalah untuk mundur sejenak dan merenung untuk apa mereka ada disana. Dia menggunakan kisah seorang mahasiswa yang dulu pernah dia ajar, akhirnya cuti satu tahun, tetapi ketika kembali menunjukkan suatu keseriusan yang tak terkira.
Semoga Allah SWT melancarkan studi kita semua,dan menunjukkan jalan yang terbaik untuk hidup kita.
Filed under: sotoy
Kebahagiaan adalah sebuah perasaan tenang yang sangat nyaman. Susah digambarkan tapi yang pasti tak ada lagi keresahan dan keraguan tak peduli apa. Mungkin?
Setiap ingin buka yahoo mail, aku mesti masuk halapan depan Yahoo! dulu. Jadi suka baca infotainment nya juga, dan tadi aku ‘click’ cerita dibawah ini.
http://id.omg.yahoo.com/blogs/mengapa-selebritas-korea-bunuh-diri-syanne_susita-5.html
Yang terlintas dikepalaku pada saat aku baca cerita tersebut, malahan sebuah memori masa kecil ku. Saat ini aku sudah kelas 3 SMP (tahun 1999), sedang diatas pesawat terbang dari Balikpapan ke Jakarta. Aku duduk di sebelah seorang bisnis man asal Korea yang sudah tinggal 5 tahun di pondok pinang, Jakarta. Lalu terjadi sebuah percakapan kecil diantara kami. Percakapan yang masih kusimpan dengan baik dalam ingatanku dan terpicu keluar gara-gara artikel bunuh diri tadi.
Sebagai seorang anak SMP aku senang mempraktekan bahasa inggris ku dengan orang asing. Saat itu dengan tidak sadar dia orang Korea, kusapa dia dan kutanya apakah dia orang Jepang. Sapaan sederhana ku itu ternyata ditanggapi dengan cukup serius oleh beliau, karena beliau ingin mengkoreksi ku bahwa dia BUKAN orang Jepang melainkan orang Korea. Ketika dengan reflek ku bilang orang Korea mirip orang Jepang, dia jadi semakin serius dan mengeluarkan kertas dan pulpen. Lalu menjelaskan dengan sejarah migrasi manusia dari daratan Cina, ke Korea, barulah tiba di Jepang. Dia menggaris bawahi berdasarkan proses tadi, orang jepang lah yang mirip orang Korea, bukan sebaliknya.
Kutangkap kesan, harga diri orang Korea tinggi sekali ya. Kini hal tersebut bermakna lebih dalam dimana di keseharian kita lihat ekonomi, industri, pop-culture dan teknologi orang Korea memang mulai mengalahkan Jepang. Aku akhirnya tahu bahwa visi mereka memang adahal untuk menyalib prestasi Jepang. Dimana tiap detik kerja keras dan ucuran keringat mereka didekasikan untuk balapan tersebut. Teman juga ada yang cerita betapa kerasnya perjuangan masyarakat korea demi mengangkat posisi mereka. Hmm, dan itu semua diraih dengan proses yang sudah dimulai dari cukup lama dulu ya ternyata…..salut.
Percakapan berlanjut diantara kami. Dan muncul poin kedua yang membuat percakapan kami begitu terkenangnya. Si oom korea bertanya “Kamu mau kuliah dimana nanti?” Langsung kujawab “MIT!”. Itulah si Anto kecil, yang penuh mimpi dan optimisme. Kenapa ya aku tidak jadi kuliah di MIT? Hehe, prestasiku di masa SMU anjlok parah. Jujur saja jika aku punya satu kesempatan untuk mengubah masa lalu, masa SMU ku itulah yang ingin ku ubah.
Tapi inti cerita ini bukan penyesalan itu. Tapi rasa syukur dan terimakasih ku pada Allah SWT, kini aku telah diberi-Nya kesempatan untuk me-redeem all my lost years. Setelah melanglang buana tidak jelas lulus kuliah dan kerja di bidang yang bukan passion ku. Aku dibukakan jalan untuk kuliah lagi yang kupercaya bisa membawaku ke bidang yang lebih sreg. It feels so right this time! Although i cannot diminish the fear 100%, let us just pray and try for the best! Maju jalan kayak orang Korea!
Filed under: Thoughts
God is good as always.
Hari senin 18 april 2011 saya tidak pergi latihan rugby sebagaimana biasanya setiap senin malam. At first, i felt bad about it because we are now in the middle of the season and the situation were pretty serious. We wanted be the champion, and we had shown some steady positive progress. The least thing we would do is to disappoint other team members and especially not the coach! Coming to a practice session is a fundamental thing!
However, the tight schedule i had plus a request from my best friend to accompany him that night made me had to skip it. Later on that night, when i got back to my apartment something unusual happened! We had electricity breakdown in the whole quarter, and sadly there was a problem with the emergency generator too! What did it mean? It meant that eventually after i had waited for one and a half hour, from 9pm to 10.30pm, I must took the emergency staircase to go up to my apartment (which was on the 23rd floor!). The hiking only lasted until 16th floor though because then went back to normal.
I felt good at the end of the night though. Because of two things:
- Thanks to all the sport i had been doing, walking up to the 16th floor by stairs was not so hard after all
(sorry guys i need to brag!) - Can’t imagine if i came to rugby practice and afterward still need to took the staircases
!!
As they like to say: “Things happened for a reason”.
Originally when i wanted to post this story, it ends here. But on the next day something hapenned again! And it was not something pretty!!
At around 18.20pm inside a full packed busway from Bendungan Hilir to Ratu Plaza, my BlackBerry was stolen!!!!
I just did not understand why this must happened again, since I already lost my first BlackBerry earlier in December 2010. As someone without regular paycheck, losing a valuable property like that is very painful. I put it in my jeans pocket which was pretty tight and checked my goods regularly. Just when i stepped out from the bus, one foot was out and the other was on the bus platform, i checked my pocket and my dearest smart phone was not there
I don’t know, to be honest, I wanted to be angry. However, when the tragedy happened I was in a state of “perenungan”. Maybe you would understand based on my last two twitter posts before the event. Maybe, it should be a good thing that i don’t have my BlackBerry now.
Yes, i need to take a break. Most times the device would distract me. Now without it i can concentrate only to things which are really matter for my life plan and those people who are closest to me. The practicality of the BlackBerry Messenger is cool, but, now it is contra-productive for me. I want to make a confession here: I always tempted to mind lots of others. Made me wonder about some girls, or some friends, and try to still get in touch with them. I thought i can replace real life interaction (which i had lost, since i am no longer working) with it. That is really, contra-productive.
Later that night i sent messages through my friend’s phone to some people that i thought i need to tell them about this. I didn’t want to tell much people about it because i really don’t want to talk about it. I told three of my friends. One is one of my closest friend so i got to tell her anyway just in case she needed me. What magical was, the other two had actually contacted me earlier in between the time i lost my phone and the time i told them the news!!!
They were surprised: “Hey Anto, if you lost your BB how could you knew that we were trying to reach you???”.”I don’t know, it was just instinct!” I replied.
Luckily one of them was actually offering me a job. I wouldn’t take it if i still got my BB. But now, without any income, how can I revive my BB? Surely i need to take the job. So then I met the team, we are supposed to develop some kind of information system for a local company. It is a good thing that now i am working on this project, i feel good about it. Being productive again is great!
This writing is intended to express the old saying:
“Everything happens for a reason.“
Well indeed, now i feel it is actually a good thing that i lost my BB. I’m better be without it for the time being. And how could I get the ‘instinct’ if it was not by the lead of God? Thank you God, you always know what’s best!
Filed under: Thoughts
Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat hebat. Dibalik kesederhanaan penampilannya, Ibuku selalu mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang produktif. Begitu bangganya saya pada Ibu, yang bisa memaksimalkan kemampuannya untuk kebaikan.
Kegiatan ibu-ibu kebanyakan seperti arisan, pengajian, memasak, dll sudah menjadi kebiasaannya. Yang sedikit membedakan Ibu dari ibu-ibu yang lain adalah bahwa Ibu juga suka menerima pesanan makanan. Beberapa menu andalannya seperti siomay, pempek, gudeg, bubur ayam, dan juga kue-kue seperti lapis legit sering dipesan untuk mengisi konsumsi acara-acara di lingkungan kami dulu di Balikpapan. Hingga akhirnya pesanan juga masuk dari kerabat yang lebih luas. Pesanan yang masuk menjadi banyak dan sering, dapur dirumah kami pun berubah menjadi shop floor (lantai produksi).
Mengapa masakan Ibu berhasil dipasarkan? Memang rasanya enak sekali, terutama siomay-nya, karena di kota Balikpapan dulu hampir tidak ada yang bisa membuat Siomay Bandung yang enak (atau sering disebut juga Baso Tahu). Siomay adalah produk unggulan Ibu, karena frekuensi order-nya yang paling besar. Walaupun tentunya masakan Ibu yang lain juga tidak kalah enaknya.
Sejarahnya, dulu di Balikpapan ada seorang tante bernama tante Nani yang ahli memasak. Pada jaman itu, Ibu belum menjadi seorang penerima pesanan makanan. Tante Nani pada akhirnya harus meninggalkan kota Balikpapan dikarenakan suaminya akan berdinas ke Jakarta. Sebagai kenang-kenangan, tante Nani memanggil beberapa ibu-ibu untuk diwariskan ilmu memasaknya. Kebetulan Ibu ikut sesi tersebut, namun bedanya Ibu terus mengasah dan melatih kemampuannya selepas diajari oleh tante Nani sedangkan ibu-ibu lain tidak terlalu antusias. Akhirnya Ibu menjadi seorang ahli juga dan bisa mengambil alih pasaran pesanan makanan yang sebelumnya dipegang oleh tante Nani.
Keberhasilan Ibu menjual siomay, sangatlah hebat. Pernah suatu ketika ada restoran di Balikpapan yang menawarkan kerjasama dalam bentuk agen tunggal. Jadi si restoran akan memesan secara besar dan rutin ke Ibu tetapi Ibu tidak boleh menjual sendiri ke tempat lain. Penawaran ini ditolak Ibu. Bila dikuantifikasikan pun, profit yang dihasilkan Ibu cukup besar hingga cukup untuk digunakan Ibu berbelanja tas-tas ber-merk.
Namun, keberhasilan terbesar siomay Ibu menurut saya adalah ketika kini usaha siomay itu bisa mengangkat harkat martabat Mbo Djum. Mbo Djum adalah asisten Ibu, yang dulu membantu urusan general affairs di rumah kami di Balikpapan. Awalnya Ibu membuat masakan-masakan tersebut sendiri, namun akhirnya Mbo Djum pun diajari dan bisa membantu proses produksi dan Ibu hanya fokus mengurus penjualan, dan belanja. Pada tahun 2009, Ibu dan Bapak harus pindah dari Balikpapan karena kepindahan dinas Bapak. Alhasil seluruh ilmu per-siomay-an harus diwariskan ke Mbo Djum, beserta seluruh alat produksi yang biasa digunakan. Setelah itu, Mbo Djum mengambil alih usaha siomay Ibu. Kini sudah tahun 2011, Ibu menanyakan ke Mbo Djum dan alhamdulillah Mbo Djum berhasil konsisten meneruskannya. Betapa hebatnya Ibu, yang bisa membantu Mbo Djum dan keluarganya kini hidup dari menerima pesanan siomay. Aset peralatan, aset daftar konsumen, dan ilmu pembuatan siomay dihibahkan ke Mbo Djum untuk menjadi modal Mbo Djum.
Kita semua saat ini sedang berusaha berkontribusi ke masyarakat. Mencoba membuka lapangan pekerjaan, supaya jumlah orang yang miskin bisa berkurang. Banyak orang yang suka memberi sumbangan, tetapi ada juga yang berprinsip lebih baik memberikan tongkat pancing dan umpan ketimbang ikannya. Apa yang membuat saya bangga, diam-diam Ibu sudah melalukan itu semua dengan konkrit dan dengan kesederhanaan yang sangat elegan.
Mudah-mudahan, kita semua terutama saya yang sudah menghabiskan banyak resource untuk kuliah dll, bisa melakukan hal yang sama seperti Ibu dengan skala yang jauh lebih besar. Amiin. I love you Mum.





