UMI~GA~KIKOERU


My Passion (?)
March 20, 2008, 12:02 pm
Filed under: Feelings

Sistem kerja terdiri dari tiga elemen: man, machine, dan material. Menurut saya unsur man memegang peran yang paling signifikan dalam menunjang performansi sistem tersebut.

Ketika dulu saya pernah bilang kalo saya telah menemukan arti hidup (dalam account friendster), itu adalah saat dimana saya sadar passion saya adalah mengenai human and organisational development. Ato mungkin organisasional development through human development ? I dunno, kalo dibalik2 lagi bisa juga tuh. Kayaknya kedua hal tadi sangat berkaitan.

Hasrat ini timbul dipengaruhi oleh riwayat perjalanan hidup saya tentunya, yaitu:

Pengalaman melihat langsung kehidupan yang mencemaskan di lingkungan yang manusia-manusianya terbelakang (Indonesia gitu loh!). Kuliah di Teknik Industri ITB yang bagaikan rujak gila mencampuradukkan segalanya tanpa mau mengakui bahwa dirinya adalah manajemen (masih berusaha ingin diakui sebagai anak gajah ganesha). Membaca buku-buku manajemen yang menggugah prinsip-prinsip kemanusiaan (contohnya: Gung-Ho!). Berteman dengan para aktivis kampus yang begitu peduli akan kemahasiswaan (yah, mahasiswa itu himpunan bagian manusia toh?). Dan kecintaan pada ekskul T’st yang sedang akut butuh kemajuan dan perbaikan (kalian pasti bisa!).

Terus terang ketika diajak sekolah lagi (S2), saya coba mencari informasi akan program-program yang ditawarkan di universitas-universitas di UK. Saya juga tanya mengenai prospektus karir bagi orang2 dengan latar belakang pendidikan di bidang human resource development. Ternyata disana memang bidang itu diutamakan sekali dalam organisasi ato perusahaan, dan banyak jurusan2 yang menarik untuk program S2-nya.

Saat ini jadi pingin sekali sekolah lagi mempelajari hal itu. pasti menyenangkan belajar hal yang memang kita suka. Walaupun jurusannya agak aneh (kurang keren). But, a smile on happy faces of people is what really matters to me!



Ada Yang Aneh Dengan Para Tukang Gorengan Ini
March 16, 2008, 11:07 am
Filed under: Thoughts

gorengan adalah kudapan terpopuler di Indonesia (mungkin, ini cuman basa-basi kata pembuka saja kok). Walaupun saya bukan penggemar berat gorengan, tapi saya sudah mulai mengkonsumsinya sejak kecil sekali dulu (mungkin sejak kelas 1 SD). Dinamika gorengan cukup terekam di kepala saya sehingga saya punya sedikit kisah dan pemikiran mengenainya.

Selain adanya perkembangan variasi produk (jenis gorengan maupun bumbu pelengkap), perkembangan harga justru menjadi perhatian yang lebih menggelitik saya. Dulu sekali saya ingat harga 1 potong gorengan adalah 200, jadi 1000 dapat 5. Kemudian selanjutnya menjadi 1000 dapat 4. Naik lagi hingga 1000 hanya dapat 3. Sampai saat itu saya masih tenang mengikuti perkembangan harga yang menurut saya wajar sesuai dengan arus. Hingga suatu hari (sudah tahun 200 8) saya kaget, ketika mau membeli gorengan ternyata kini 1000 cuman dapat 2. Gila, segitu parahnyakah inflasi di Indonesia? Saya langsung panik juga memikirkan bahwa tentunya kenaikan gila-gilaan ini disebabkan kenaikan harga minyak dll. Saya ketakutan ketika membayangkan ketika sekerat pisang yang dibalut tepung terigu dan minyak saja sudah seharga 500 rupiah sepotongnya. Saya panik membayangkan kenaikan-harga-kenaikan-harga gila-gilaan yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun tentunya kepanikan ini hanya sementara dan selanjutnya hari-hari saya kembali normal tanpa adanya pemikiran aneh, paling tidak sampai hari ini (kepanikan sementara ini tentunya fenomena yang disadari pemerintah, sehingga tidak pernah ada keseganan atau keengganan menaikkan harga-harga sembako).

Tadi sore saya membeli gorengan sebanyak 4 biji dan menemukan ‘keanehan’, yang mana ‘keanehan’ itu saya temukan juga ketika membeli gorengan dua hari yang lalu pada tukang gorengan yang berbeda. Jadi saya coba simpulkan ‘keanehan’ itu memang terjadi, dan saya simpulkan ‘keanehan’ itu dipicu oleh naiknya harga gorengan. Agar pembaca tidak penasaran, ‘keanehan’ yang saya maksud adalah:
1- ukuran gorengan yang lebih besar daripada sebelum kenaikan harga
2- kantong kertas digantikan oleh kantong kresek plastik
3- rasa gorengan yang lebih enak (sepertinya penggantian minyak goreng kini lebih sering)

Munculnya keanehan tersebut terus terang melegakan saya, karena:

Saya dari dulu selalu kesal dan curiga setiap ada kenaikan harga komoditas. Saya benci sekali dengan para pedagang yang menaikkan harga dengan persentase yang melebihi persentase kenaikan harga bahan bakar ataupun bahan bakunya. Hal ini seolah-olah menjadikan ‘moment’ kenaikan harga bahan bakar sebagai peluang meningkatkan margin keuntungan, tanpa memikirkan nasib konsumen. Tetapi ‘keanehan’ yang muncul di tukang gorengan ini menandakan bahwa peningkatan pemasukan dari kenaikan harga ternyata dialokasikan lagi untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Salut, dengan mental tidak kemaruk ini. Semoga para business man di Indonesia meniru perilaku yang satu itu, ya!

Tetapi ‘keanehan’ yang benar-benar aneh adalah penggunaan kresek plastik. Memang kresek plastik lebih bersih, kuat, dan tidak bisa ditembus oleh minyak. Tetapi, sampah plastik merupakan limbah yang paling sulit didaur ulang. Mengingat bahwa dunia sudah mau kiamat akibat pemanasan global, saya pilih kantong kertas saja pak!



Konser Bjork: Dalam Konser
March 3, 2008, 3:44 pm
Filed under: Documentaries

Ternyata Bjork membawa pasukan brass section sebanyak 10 orang. Setelah mereka masuk dari sebelah kiri panggung, mereka kemudian langsung mengambil posisinya dalam dua barisan di sebelah kanan panggung. Jadi mereka melintasi panggung sambil membawakan suatu lagu, marching bak tentara gitu. Memang disebelah kanan panggung sebetulnya sudah disiapkan 10 mic untuk brass section tersebut, namun karena kerabunan mata saya jadinya tak terlihat sebelumnya. Adanya brass section ini cukup menyenangkan karena tadinya ekspektasi saya akan konser ini sempat turun. Jadi total ada 15 pemain musik yang mengiringi Bjork, 1 drumer, 1 pemain keyboard dan synth, 3 orang DJ, 10 pemain alat tiup.

Dimulailah konser tersebut dengan lagu pertama yaitu “Earth Intruders”, yaitu sebuah single yang sangat up-beat dan megah dari album terbaru Bjork (Volta). Semua penonton masih teriak-teriak, kami pun yang di tribun langsung berdiri. Terus terang saya masih terkejut dan setengah tidak percaya kalau memang sedang menyaksikan Bjork secara langsung. Penonton ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan, dan terlihat bagaimana Bjork menari-nari sambil membawakan lagu tersebut. Terasa sound dari konser itu memang tidak terlalu bagus, karena ternyata sedikit terlalu keras dan suaranya kurang lembut.

Saya tidak akan menceritakan secara detil kronologis konsernya, tapi mungkin beberapa highlights yang sangat berkesan bagi saya. Konser tersebut sangat keren, bahkan disebut sebagai salah satu konser yang terbaik yang pernah digelar oleh JAVA MUSIKINDO (Sumber: www.javamusikindo.com). Walaupun begitu memang tiket konser ini tidak sampai sold-out.

Bjork menggunakan kostum yang sangat menarik (bagi saya), seperti gaun namun ada sentuhan namun etniknya dengan lapisan-lapisan. Kostumnya terdiri dari warna emas, merah, dan oranye (kalo tidak salah). Bjork tidak menggunakan alas kaki alias ‘nyeker’ tetapi menggunakan semacam stocking berwarna pink muda. Para pemain brass juga menggunakan kostum yang mirip kostum badut ditambah dengan adanya bendera kecil beserta tiangnya yang dipasang di punggung masing-masing pemain. Sedangkan lima pemain band yang lain menggunakan pakaian yang cenderung ’sederhana’ bagaikan pakaian sehari-hari saja. Pemain keyboard menggunakan jeans, jaket dan kaos. Ketiga DJ hanya kemeja atau kaos dan celana panjang. Walaupun cenderung kontras tetapi perbedaan itu justru membuat suasanan di panggung jadi lebih menarik dan seru.

Bjork selalu menari, terutama tangannya, mengikuti irama dan beat dari lagu. Tarian yang khas, dan menawan sekali. Setiap langkah kakinya dan gerakan tubuhnya selalu selaras dengan lagu yang dimainkan. Bahkan ketika dia membetulkan rambutnya saja, masih terlihat kalau gerakan itu termasuk dalam alur gerakan tarian. Benar-benar hebat. Itulah yang saya salut dari artis luar negeri, mereka sangat menjunjung excellence dan profesionalisme.

Bjork terkadang menyanyi ditengah panggung dengan menggunakan stand mic, tapi lebih sering sambil bergerak-gerak disekitaran panggung. Terkadang Bjork maju sampai ke bibir panggung untuk menyapa penonton, tapi hal ini lebih sering dilakukan pada sisi kanan panggung. Mungkin karena sisi kiri panggung lebih penuh.

Tata cahaya sebenarnya agak biasa, namun yang menarik adalah adanya permainan laser. Laser itu hanya digunakan di lagu-lagu tertentu saja, kalau tidak salah dalam “Joga”, “Hyperballad”, “Pluto”,dan “Declare Independence”. Jujur saja tata cahaya tidak memukau saya.

Setiap gerakan, kostum, tata cahaya, blocking panggung dan aspek pertunjukkan yang lain tadi pastinya bukan buah spontanitas. Pengkonsepan yang betul-betul dipikirkan pasti telah dilakukan sebelumnya oleh artis tersebut agar berhasil menampilkan suatu pertunjukkan yang bagus. Latihan keras dengan kedisiplinan juga dipegang teguh, dibuktikan dengan minimalnya cela atau kesalahan yang terjadi dalam konser. Suara Bjork selalu stabil mulai dari awal sampai akhir. Hebat sekali.

Kedua layar besar di sebelah panggung terkadang menyoroti Bjork, apabila dia sedang bernyanyi di tengah. Terkadang menyoroti para pemain brass, dan yang paling keren adalah ketika menyoroti panel instrumen para DJ. Ternyata para DJ tidak menggunakan groove box biasa, melainkan panel LCD yang berupa layar sentuh. Dimana mereka mengendalikan musik yang dimainkan dari layar sentuh ini. Yang keren adalah karena layar sentuh, maka tentunya panel bisa berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan lagu. Di depan setiap DJ juga terdapat LCD monitor yang selalu menyoroti apa yang terjadi dengan panel digital itu, jadi setiap saat penonton dapat mengiuti permainan ‘jari-jari’ para DJ. Hal ini cukup memukau.

Dan yang paling canggih adalah satu buah instrumen ‘aneh’ yang bernama Reactable. Instrumen ini juga berupa layar sentuh, hanya saja ukurannya cukup besar dan bentuknya bulat seperti meja penggorengan martabak. Tetapi penggunaan alat musik ini tidak hanya dengan cara menekan/memijit layar sentuh, namun juga dengan meletakkan benda-benda seperti coin. Dimana setiap koin memiliki fungsi berbeda yang menyebabkan efek suara tertentu. Alat musik ini sepertinya untuk menggantikan fungsi synthetizer, tetapi jauh lebih dinamis. Yang membuat keren sebetulnya adalah bahwa alat musik ini masih berupa prototype yang sedang dikembangkan di sebuah universitas di spanyol, bahkan di seluruh dunia baru ada 5 unit. Untuk informasi lebih tentang instrumen ini buka http://reactable.iua.upf.edu/ .

BJORK memulai konsernya dengan intro musik Brenid pid vitar, yang langsung disambung dengan lagu Earth Intruder, Unvarel, All is Full of Love, Joga, Pagan Poetry, Pleasure is all mine, Hidden Place, Desired Constellation, Army of Me, Bachelorette, Cover Me, Wanderlust, Hyperballad, Pluto, Anchor Song, Declared Independence. 19 lagu dilahap Bjork dengan santai. Kadang dia setengah berdansa diantara lagu-lagunya yang berirama. Salah satu lagunya Earth Intruder adalah lagu yang diilhami dari bencana Tsunami yang melanda Aceh, yang diambil dari album terbarunya Volta. Bjork sendiri pernah berkunjung ke Aceh pada Januari 2006 dalam rangka misi Unicef. Sebuah apresiasi simpati yang terpuji buat Bjork dengan menghadirkan lagu tersebut di bumi Indonesia. (Sumber: www.javamusikindo.com)

Sayangnya untuk urusan komunikasi, dapat dikatan cukup minimalis. karena kata-katayang keluarkan Bjork untuk penonton hanyalah sebatas thank you-thank you saja. Paling Bjork cukup banyak berucap ketika dia memperkenalkan anggota band-nya dan ketika dia memohon maaf karena tidak bisa berbahasa indonesia.

Best moments dalam konser in bagi saya adalah ketika dengan lantangnya saya teriak “Bjork, I LOVE YOU!!!”. Dari pertama saya menyukai musik Bjork, memang saya benar-benar charmed olehnya. Teriakan yang saya lakukan itu memang sungguh-sunguh loh. Rasanya luar biasa, ketika meneriakan suatu hal seperti itu. Belum pernah saya lakukan hal itu sebelumnya, pada cewe kecengan saya saja belum pernah mengakui perasaan dan mengekspresikannya selugas dan selantang waktu itu. Mantap. Kemudian momen terbaik lainnya adalah ketika mau encore. Sebelum lagu “pluto” dibawakan, Bjork berkata bahwa ini adalah lagu terakhirnya. Namun setelah dia keluar panggung, semua penonton masih khidmat dalam arena. Lalu semua mulai berteriak “We mant more!”. Bagaikan ombak dilautan yang kadang pasang dan surut, teriakan itu mengeras lalu sempat juga lenyap. Tapi kemudian muncul lagi, dan terus gelombang teriakan penuh harapan itu dikumandangkan penonton. Yang sangat luar biasa adalah ketika saya terkadang menjadi pemicu teriakan itu. Dengan mengsinkronkan ritme teriakan dengan penonton lain akhirnya bisa juga ‘mengajak’ seluruh penonton memanggil Bjork untuk keluar lagi. Luapan kebahagiaan yang luar biasa, ledakan energi yang membuat saya meloncat-loncat dan memeluk-meluk adik saya saking senangnya karena Bjork akhirnya muncul lagi ke panggung. Betapa senangnya karena harapan, dan usaha yang dikeluarkan terjawab dengan sempura. Yang menyempurnakan encore ityu adalah pada lagu terakhirnya yaitu “Declare Independence” ada bagian lyric yang berbunyi “Raise your flag!”, dan entah bagaimana ternayata ada sekelompok penonton di baris depan yang kemudian  mengeluarkan dan mengibarkan bendera merah putih milik Indonesia. Suasana arena jadi makin menggila ketika itu. Mantaps!!!!

Hingga akhirnya konser pun ditutup, namun butuh waktu yang cukup lama untuk membuat para penonton rela meninggalkan venue. Cukup lama kami semua tetap nongkrong disana. Mungkin karena pengaruh ’sihir’ dari kemenawanan  konser itu. Semua masih terbius dan ketagihan tak mau bangun dari mimpi indah itu. Orang-orang bersenda gurau, foto-fotoan, atau hanya sekedar membiarkan dirinya terhanyut oleh bayangan keajaiban yang baru saja terjadi. Saya sendiri nangkring di railing, menilhat arus keluarnya penonton di kelas festival secara perlahan dan mengamati crew bjork (soundmannya mungkin) sedang beres-beres di booth mixernya. Sampai venue mulai kosong dan panitia JavaMusikindo ‘mengusir’ kami agar keluar dari venue, akhirnya saya pergi juga dan pipis dulu di wc dekat pintu keluar gedung.



Konser Bjork: Pra-Konser
February 17, 2008, 5:18 am
Filed under: Documentaries

Akhirnya hari ini (Selasa, 12 Februari 200 8) tiba juga. Saya punya istilah yang selalu saya gunakan untuk menghargai hari-hari ‘aneh’ semacam ini: “Hari yang sepertinya tidak pernah datang, akhirnya datang juga.”. Ya kenapa begitu? dari dulu saya selalu membayangkan bahwa hari semacam hari kuliah pertama, hari kelulusan, dan hari konser ini adalah sesuatu yang jauh sekali sehingga rasa-rasanya tidak akan pernah terjadi. Tapi ya begitu saja, akhirnya terjadi juga. Tidak disangka ‘begitu saja’ akhirnya saya lulus jugadari kuliah S1, begitu pula ‘begitu saja’ Bjork datang ke Indonesia dan saya akan menonton konsernya.

Masih teringat betul di tahun 2004, pertama kali saya suka akan musik Bjork. Saya menonton rekaman konser Bjork dari DVD di rumah teman saya. Betapa terpukaunya saya, tidak hanya oleh musiknya tapi juga akan penampilan konser yang begitu luar biasa (one of a kind!). Dalam rekaman konser itu Bjork diiringi oleh sebuah grup orkestra, satu grup choir, seorang pemain harpa, dan dua orang multi-instrumentalis. Begitu kerennya konser itu saya merasa, wah, tidak mungkin ada konser Bjork di Indonesia. Tapi, memang sejak saat itu saya mulai mendengarkan musiknya Bjork, dan sejak saat itu saya menjadi penggemarnya.

Salut untuk Om Adrie Subono, Sang Promotor, yang mampu membujuk Bjork untuk mampir ke Jakarta. Sebetulnya Bjork sedang melakukan rangkaian tur konser album terbarunya (Volta), dan diantara perjalanannya dari Australia ke Korea ‘disempatkan’ untuk tampil di Jakarta. Itulah penyebabnya kenapa konser tersebut diadakan di hari selasa, bukan pada weekend.

Perjalanan dimulai dari naik travel Citi Trans pada pukul 15:00 dari Bandung ke Jakarta. Tidak ada yang spesial dalam perjalanan, kecuali ‘deg-deg-an’ karena ekspektasi. Sampai di Jakarta pukul 18:00, yaitu di Club Store SCBD Sudirman (pool Citi Trans). Saat itu jalanan di Jakarta agak macet tampaknya karena arus kendaraan pulang kantor. Setelah sampai hal pertama yang dilakukan adalah mencari toilet. Kemudian mengambil tiket yang sudah dititipkan di petugas Citi Trans. Terus terang saya agak tegang karena takut kalau-kalau ada yang mencuri tiket tersebut, hal itu mungkin saja terjadi karena tentunya tiket konser tersebut sangatlah berharga. Tidak hanya karena harganya yang mahal, tetapi juga karena unsur ‘kapan lagi Bjork mau konser ke Indonesia?’. Alhamdulillah, betapa leganya melihat dua lembar tiket konser tersebut setelah saya membuka amplop yang bertuliskan “To: Anto, From: Jaka”. Hehe, thanx a lot Jak!!!!

tiket bjork (front side)

 tiket bjork - back side

Kemudian saya dan adik saya memutuskan untuk jalan kaki saja ke venue, karena kalau naik taksi justru takut terjebak kemacetan. Akhirnya kami jalan kaki dari SCBD ke Senayan, kami mampir dulu ke Plaza Senayan untuk makan malam. Setelah makan malam lalu jalan kaki ke Arena Tennis Indoor Senayan. Total jalan kaki kurang lebih 2 km, karena kami akan menonton dari tribune (bisa duduk) hal itu tidak jadi masalah.

Ketika kami sudah mendekati gerbang kompleks olahraga Senayan, banyak calo mendekati untuk menawarkan tiket. Saya berpikir, edan juga para calo ini! Karena harga tiketnya akn mahal, berarti mereka mengeluarkan modal yang besar sekali. Apakah memang menguntungkan ya? Ataukah tiket-tiket yang mereka jual itu palsu? Entahlah, saya lalu mempercepat langkah kaki saya agar bisa masuk ke dalam arena sambil menolak para calo itu dengan mengatakan bahwa kami berdua sudah punya tiket.

Ketika saya sampai di arena, saya melihat beberapa hal: rata-rata penonton sebaya dengan saya, banyak sekali orang bule-nya, dan tiket tidak sold-out. Pihak Java Musikindo masih menjual tiket disana ‘bersaing’ dengan para calo. Tidak seperti ketika konser Fall Out Boy dahulu dimana saya merasa ‘ketuaan’, disini saya merasa lebih nyaman. Dan ternyata cukup banyak orang yang datang tanpa tiket, mungkin dengan optimisme untuk mendapatkan tiket di venue saja. Hal itu cukup beralasan karena memang tentunya penggemar Bjork tidak terlalu banyak di Indonesia. Saya lalu membeli sebotol aqua dingin seharga Rp 3000 (mahalnya, entah karena Jakarta atau karena konser?). Sialnya, ketika akan masuk ke dalam venue ternyata membawa minuman dilarang. Sehingga ‘barang terlarang’ itu harus ditinggalkan saja di pintu masuk, padahal belum diminum sama sekali. Walau disarankan untuk diminum dahulu oleh petugas, saya memilih tidak karena takut beser.

Selanjutnya kami masuk ke dalam venue, yaitu kira-kira pada pukul 7:30. Ternyata tribun bagian tengah sudah cukup terisi. Kami kemudian memilih untuk duduk di baris ke dua dari bawah, namun di paling pinggirnya. Posisi ini cukup bagus karena masih di kolom tribun tengah, benar-benar di depan panggung. Hanya saja karena railing, pandangan akan sedikit terganggu. Tapi apabila kami berdiri, kami justru akan medapatkan a perfect view. Mudah-mudahan saja hal itu terjadi.

Saya lihat panggung yang cukup sederhana, dapat dikatakan tidak ada dekorasi. Hanya ada tiga LCD Monitor di panggung yang saya tidak tahu fungsinya apa, dan sebuah drum set. Sebuah stand mic ditengah. Dua layar besar di kiri dan kanan panggung, yang seperti biasa akan membantu penonton melihat aksi yang terjadi di panggung. Terus terang saya agak kecewa waktu itu, walaupun saya juga sudah menduga sebelumnya, bahwa konser yang akan terjadi hanyalah sebuah konser ’sederhana’. Tidak seperti konser yang saya tonton di DVD pada tahun 2004 itu. Tapi tak apalah, ada konsernya saja sudah luar biasa kok.

Namun, pengalaman pra-konser ini menjadi seru karena beberapa saat setelah saya duduk ada sepasang bule yang mencari tempat duduk. Setelah saya sapa dan menawarkan kursi disebelah saya, mereka lalu duduk. Yang menarik adalah kami kemudian mengobrol. Kami berbicara tentang bagaimana konser ini bisa terjadi, bagaimana kira-kira nanti konser ini akan berjalan, dan berbincang sekilas tentang scene musik lokal dsb. Yang menarik adalah beberapa orang tak saling kenal, karena musik, bisa mengobrol dengan ramah dan santai. Wah, hal seperti ini memang yang saya bayangkan dari dulu.

Setelah beberapa saat menunggu, announcer mengumumkan beberapa hal mengenai tata tertib selama konser. Lalu lampu dimatikan, dan muncul sebarisan orang yang merupakan brass section sambil memainkan sebuah lagu, dari sebelah kiri panggung bergerak ke kanan panggung. Semua orang teriak-teriak. Orang-orang di tribun langsung pada berdiri dan berarti, konser telah dimulai…..



Konser Bjork: Prolog
February 13, 2008, 4:57 am
Filed under: Documentaries

Kemarin, satu hari yang sangat indah terjadi, entah bagaimana, Tuhan begitu baiknya, saya akhirnya menonton konser Bjork.

Dari dulu saya sangat menyukai musik, dan datang menonton konser adalah salah satu hal yang paling menyenangkan. Ada suatu pengalaman tertentu dalam menonton konser. Mulai dari perjalanan menuju konser yang penuh dengan ekspektasi dan antusiasme. Kemudian detik-detik penantian yang begitu tegang menunggu mulainya konser itu, biasanya kemudian ketika sang artis keluar untuk muncul ke panggung semua penonton langsung teriak histeris. Suasana ketika konser yang begitu heboh, teriak-teriak lepas, merinding-merindingnya, kejutan-kejutan, wah semuanya. Dalam konser (terutama dalam musik rock), terjadi luapan emosi dari ribuan orang yang, wow, membuat suasanya menjadi begitu luar biasa.

Tapi dalam kenyataannya, tidak semua konser menjadi menarik. Hal ini saya alami beberapa kali, sebuah konser menjadi ‘basi’ dan tidak berkesan. Penyebabnya: musisi yang tidak terlalu handal, panitia yang kurang profesional, dan penonton yang ‘cupu’. Yang paling tidak asik adalah ketika para penonton ‘jaim’, duh menyebalkan. Ketika hal itu terjadi saya merasa jadi orang yang hiperaktif, padahal hanya ingin menikmati konsernya saja.

Tapi kemarin, dalam konser Bjork itu harapan saya akan sebuah konser terpenuhi. Memang tidak 100%, ya kira-kira 90%, tapi itu sudah cukup sekali. Saya benar-benar mendapat ‘a damn great concert experience’. Mulai dari perjalanan menuju venue, sampai perjalanan pulang kembali ke Bandung, semua terisi oleh kejadian yang seru. Yang membuat saya kehilangan 10% adalah: saya duduk di tribun (jarak pandang agak jauh, jadi sulit melihat ekspresi si-Bjork-nya), saya hanya menonton berdua dengan adik saya (lebih seru kalo rame-rame pastinya), sehabis pulang langsung cabut dari venue (padahal ingin sekali menunggu dan menyapa Bjork langsung). Tapi well, saya sangat bersyukur sekali atas kejadian kemarin.

Nah, untuk itu saya akan menuliskan bagaimana pengalaman saya itu di blog ini. Saya akan membagi dalam beberapa tulisan. Tulisan yang ini hanya prolog saja begitu, nanti akan ada bagian pra-konser, dalam konser, pasca konser, dan encore. Selamat membaca dan menikmati!



And They Said: “Love Is A Greater Mystery Than Death”
February 1, 2008, 4:18 pm
Filed under: Documentaries

Iyah-iyah…tulisan dibawah ini gak seberat itu kok…

cuman tentang alkisah si nTo yang ‘menemukan’ definisi cinta…paling enggak versi dia…atau paling enggak sesuatu yang dia percayai sekarang

bermula dari suatu malam, gw ngobrol ama temen gw, yang rencananya mau nikah bentar lagi. Gw bilang ama dia “Eh, gw lagi deket ama seorang cewe nih. Gw suka banget ama dia, dan dia kayaknya suka juga ama gw. Apa gw jadian aja ya ama dia?”. Temen gw menjawab “Apa yang lo gak suka dari dia?”.

“Hmm..apa ya? Kayaknya sih gak ada?”

“Wah, cari dulu To. Lo harus cari tau apa yang lo gak suka dari dia. Lo harus bikin diri lo iffil dulu ama dia, baru lo bisa memutuskan dengan benar. Kalo lo buat keputusan pas lo lagi seneng-senengnya ya keputusannya pasti gak mateng. Tapi kalo lo udah ilfil tapi lo masih mau jadian ama dia, nah itu baru bener. Gw pribadi juga sebenernya udah ilfil ama pacar gw, tapi gw masih mau mempertahankan semua ini. Justru karena itulah gw lebih yakin ama hubungan kita berdua.”

Penjelasan temen gw itu baru bikin gw ‘ngeh’.  Iya juga sih. Cinta itu bukan perasaan. Cinta itu adalah sebuah keputusan, sebuah kata kerja. Untuk tetap menyayangi walaupun kita tidak suka, itulah cinta.

Makanya orang suka bilang mencintai apa adanya. Yaitu ketika udah ilfil tapi masih mau. Memang aneh, kayak gak logis, tapi sebetulnya logis sekali.

Yang perlu diingat, bedakan ’suka’ dengan ‘cinta’. Suka itu adalah perasaan, sedangkan cinta adalah sebuah tindakan. Kalau orang bilang untuk melakukan kebaikan pada seseorang butuh bensin perasaan suka, nah kalo pas gak ada perasaan suka tapi kok masih mau menyayangi, bukannya itu namanya keajaiban. Nah cinta itu memang keajaiban kan?

LOVE IS A VERB, ITS ABOUT WHAT U DO, HAVE DONE, AND WILL DO TO HER/HIM. ITS NOT ABOUT HOW U FEEL.

Nah kalau tahapan mencintai itu bagaimana? Gw sangat suka penjelasan yang dipaparkan oleh Coldplay dalam lagu ‘Yellow’. Ada tiga tahap:

1- I jumped across, i jumped across for U. Maksud dari ‘jumped across’ adalah membuat keputusan tadi, mengambil resiko, dan melakukan sesuatu yang seru. Melompati jurang adalah hal yang gampang, tapi berbahaya. Sama seperti menyatakan perasaan ama seorang cewe, gampang tapi berbahaya seru pula. Ketika kita sudah berani mengambil keputusan itu dan melakukan hal-hal yang seru, maka kita sudah di tahap 1 dalam mencintai.

2- I swam across, i swam across for U. Nah maksud dari ’swam across’ adalah perjuangan. Dalam mencintai kita perlu perjuangan dan pengorbanan. Apa sih resikonya berjuang? gak ada. Apa sih resikonya berenang? Gak ada. Cuman berat bener rasanya. Di tahap ke -dua ini jalannya lebih pasti dan aman, cuman beratnya setengah mati, ya kan? susah kan ngejaga hubungan?

3- I drew a line, i drew a line for U. Yang ini yang paling edan! maksud dari ‘drew a line’ adalah membuat prinsip hidup. Menentukan mana yang benar dan salah. Ketika seseorang sudah membuat garis dalam hidupnya maka jati dirinya menjadi kukuh. Kalo udah bikin garis, siap-siap dapet musuh, karena keberpihakan dirnya sudah jelas. jadi maksud frase ‘i drew a line for u’ adalah: kesediaan untuk menjadikan si seseorang itu bagian dari dirinya. Dan yah, inilah mungkin mencintai yang seutuhnya itu.

Salut bgt gw ama Coldplay yang bisa merangkumkan semuanya dalam lagu yang sangat indah!!!



uji kepribadian euy
January 31, 2008, 4:53 am
Filed under: Documentaries

Click to view my Personality Profile page



Cherry Blossom (?)
April 19, 2007, 7:54 am
Filed under: Documentaries

cherry blossom, 5th floor

When October comes, flowers in my campus bloom. There are these mysterious trees sorrounding The Industrial Engineering Building. I shot the pictures when they bloom the most, it’s really beautiful. Maybe if u use a bit of imagination, it sure looked like spring time in Japan. Enjoy.

cherry blossom



Umi Ga Kikoeru
March 15, 2007, 3:57 am
Filed under: Feelings

‘Umi Ga Kikoeru’ artinya adalah ‘I Can Hear The Sea’

Mungkin…

Yang pasti itu adalah salah satu anime dari studio Ghibli. Judul dalam bahasa inggrisnya ya itu tadi. Tapi kan belum tentu terjemahan sesungguhnya itu.

Kenapa blog ini berjudul demikian? Soalnya kesannya adalah sepi dan damai, tenang, seperti di kampung halaman saya. Dan saya suka akan hal itu. Saya sedang mencari tempat yang bisa seperti itu lagi. Dan sekarang ketika belum ada, bolehlah diciptakan dulu seadanya dengan memanfaatkan teknologi ini.

Umi Ga Kikoeru…



And I’m Progressing
March 15, 2007, 3:50 am
Filed under: Documentaries

Cerita ini adalah tentang saya yang suka dengan olah raga Tennis. Sebetulnya sudah suka main dari dulu (SD), tapi mulai rutin sejak 6 bulan yang lalu. Hebatnya adalah saya sampai mendapat nama depan ‘atlet’ tennis juga, karena berhasil meraih medali perak (ganda putra) di Olimpiade KM ITB 2007 ini.

di Olimpiade KM ITB '07 Seberapa hebat sih saya ini? Sebenernya masih pemula banget sih, belum bisa dibilang jago juga. Tapi kalo untuk lingkungan saya, ya lumayan lah. Kekurangan saya adalah servis, belum punya yang mematikan nih.

Dan pada suatu hari rabu, tepatnya 2 minggu lalu saya berencana main tennis di Sabuga bareng teman-teman. Saya datang tepat waktu, tapi mengapa tidak ada orang? Akhirnya saya pemanasan dan bersiap-siap, tapi belum ada yang datang juga. Ya sudah daripada menunggu saya ‘pukul-pukul-an’ dulu sendiri. Akhirnya Si Preti TI’05 dateng, tapi cuman buat bilang bahwa ternyata tidak ada yang bisa ikutan main karena mau ada praktikum. Wah, sial. Gimana nih?

Akhirnya saya memutuskan untuk main tennis sendiri. Hah? Sendiri? Haha, iya sendiri. Iya, saya berpikir kenapa saya tidak latihan servis sendiri saja. Caranya adalah dengan mengantongi 10 bola, 3 di saku kiri, 3 di saku kanan, 2 di saku belakang, dan 2 saya pegang. Dengan celana yang menggembung, akhirnya saya ambil posisi dan melakukan servis. Setelah semua bola menyeberang lalu saya juga menyeberang lapangan dan melakukan servis lagi dari lapangan seberang. Hal itu terus dilakukan, berputar-putar, dan yah banyak juga yang ngeliatin, aneh juga sih main tenis sendirian.

Saya mulai dengan servis cupu ala saya. Yaitu slice, yang lemes jadi gak ada putarannya juga. Udah gitu ada masih suka nyangkut net pula. Tapi mikir-mikir dan kayaknya perlu nyoba gaya baru deh. Akhirnya nyobain flat serve, tapi pelan dulu ah. Ternyata bisa, asalkan grip ditahan tetap continental, trus badan harus ikut ngebantu pukulannya, diayun penuh dan yak! Lebih banyak yang masuk, dan simple juga yah.

Trus mencoba supaya pukulan ada tenaganya. Yang masih salah itu lemparan saya, terlalu pendek, dan gak berarah. Jadi pukulan keganggu dan gak jelas terus. Kata Kamal harusnya tangan tetap lurus (sikut gak boleh nekuk) pas ngelempar. Terus dicoba, hmm, okay saya ngerti gmana cara ngelemparnya. Simple sih, asalkan kita harus PD dan tenang.

Ambil posisi lagi. Bungkuk. Ayunkan tangan kiri, tetap lurus. Hup, bola dilempar sambil menarik raket ke punggung. Lalu ayun, whack! Syut! WOW! ternyata saya bisa! TERNYATA BEGITU YAH! memang benar inti servis bagus dari lemparannya!

Terus coba lagi dengan gerakan yang sama. Ternyata hasilnya sama. Berarti saya menemukan juga bentuk servisnya. Seru! Seru! Makin semangat nih latiannya jadinya. Gerakan tadi diulang dan diulang. Akhirnya saya bisa!

Dari yang cuman 30% yang masuk, meningkat, dan meningkat, sampai akhirnya bisa80% yang masuk!!! Trus dicoba tanpa mikir, eh tetep masuk, HORE!! Trus biar lebih bagus lagi, saya pikir lemparannya ditambah tinggi-in. Biar bisa ancang-ancang mukul lebih lama dan bisa mukul lebih keras. Dicoba, dan SUKSES!!! HAHA!!!

Ok, jadi sekarang dah nemu bentuk servis yang ok. Jadi punya 3 servis nih: slice, flat, ama flat kenceng! haha. Intinya gini:

1- Pastikan sikut tidak nekuk ketika melempar

2- Sambil lempar tarik raket samping ke punggung (lewat samping badan, jangan atas badan)

3- Pastiin ada ‘momen’ menunggu boal turun sebelum memukul. Kalo gak ada momen ini berarti lemparannya kurang tinggi.

4- Pukul tanpa keraguan sambil menekan bolanya kebawah.

5- Untung pukulan yang lebih kencang pastikan lemparan lebih tinggi dan ayuanan yang lebih keras.

YOOOOOOO!!!!!