Filed under: Documentaries
Jaman sekarang emang banyak yang berubah euy. Dan gw kayaknya rada beruntung soalnya berada di perbatasan siang dan malam antara masa lalu dan masa depan. Dulu pas masuk ITB taun 2003, masih sempet ngerasain yang sangar-sangaran. PPAB-nya lumayan menggigit, OSKM-ya juga berkesan kok. Masih inget pas TPB kalo ngeliat abang-abang pake jaket Him tuh suka segen, angker gitu. Apalagi makin lusuh kayaknya makin ok, kesannya makin matang nih orangnya hehe.
Tapi sekarang beda banget euy. Gak cuman MTI tapi lingkungan ITB juga. Semangat pake jaket Him dah rendah bgt ya? Hal ini gak penting sih, tapi romantisme aja. Sekarang dah jarang ngeliat org pake jaket Him seliweran di kampus. Dan kalo ada yang make juga dagunya gak mendongak kayak dulu. Malah gw merasakan adanya sedikit ‘minder’ kalo make jaket Him, terkesan ‘out of date’ gitu. Malu di-cap musuh rektorat hehe.
Kayak dulu sempet nge-trend celana cutbray, rambut kribo. Yang sekarang pun ‘in’ lagi. Taun 80-an ampe 90 awal jeans robek-robek rambut gondrong ala rocker dianggap paling keren. 90-an akhir ampe 2000 awal dandanan ala skater boi dengan ‘baggy-pants’ tapi bergulir juga yah. Semuanya berputar memang, diatas lalu dibawah, ya nantinya mungkin naik lagi.
Apakah jaket Him itu cuman memang masalah ‘mode’ juga ya di kampus kita? Atau ada sesuatu yang lain dibalik itu? Kalau memang mode kira-kira kapan lagi ya jaket Him marak di kampus? Kalau bukan mode, apa memang jaket Him akan Rest In Peace…? Atau ini sebuah pertanda dari sesuatu yang lebih genting lagi..?
Gw nulis ini soalnya beberapa hari lalu ngeliat seorang anak MTI yang baru pertama kali gw liat lagi pake jaket Him, and she looks very lovely in it…hehehehe…jd berharap dia mau sering make jaket Him…hwehehehehe…
Filed under: Feelings
aku harap ini bukanlah sebuah permainan,
dimana ada pemenang dan pecundang
mudah-mudahan ini bukan perdagangan,
ada uang ada barang
jangan sampai jadi sebuah kuis,
maju ke babak bonus dengan taruhan semua hangus
aku tak ingin ini menjadi ujian atau seleksi,
karena aku belum punya cukup ilmu, dan aku tak mau disisihkan
biarkan ini menjadi sebuah proses
ajari aku untuk menjadi lebih baik lagi
tapi jangan ajari aku untuk menjadi orang lain
kita masih punya waktu kan?
satu pujian untuk dirimu
yang mampu membuatku lupa dan teradiksi
bahwa banyak sekali keajaiban dan keindahan di bumi
selain dirimu
hampir saja aku hilang lagi, sampai aku ingat lagi
yang terutama untuk dicintai
adalah Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta
Karena Dia-lah sumber dari semuanya yang paling suci, dan sejati
Filed under: Thoughts
Karena segala masalah ekonomi yang sedang melanda negeri ini, entah langkah yang baik atau tidak tapi kenyataannya subsidi berbagai sektor dikurangi. Hal ini tentunya mengundang kemarahan rakyat, karena rakyat punya kebutuhan.
Nah, selain masalah ekonomi kita juga punya berbagai masalah lain. Dan yang menurut saya paling genting adalah masalah moral masyarakat kita. Lihat saja titip absen merajalela di kebanyakan kampus, kkn masih lazim, dan lain-lain. Yang paling menarik pehatian saya adalah masalah bajak-membajak musik.
Saya pribadi belum punya sikap apakah pro atau kontra, tapi tak bisa dipungkiri hal ini memang sebuah pencurian. Sungguhpun kebiasaan membajak dapat mempengaruhi mental bangsa. Salah duanya mental apresiatif dan kreatif. Walau memang dampak yang cukup membantu juga ada, misalnya menambah lapangan kerja, dan meningkatkan pewacanaan buat masyarakat.
Yang cukup menarik, teman saya Saska punya definisi lain mengenai pembajakan. Menurutnya kegiatan menduplikasi karya orang lain untuk kemudian dijual adalah bukan sebuah pembajakan. Pembajakan adalah ketika kita mengklaim sebuah karya cipta orang lain sebagai karya kita. Nah bagaimana pendapat teman-teman?
Jadi gimana, kalo dibuat subsidi untuk musik dan film. Sehingga masyarakat dapat menikmati barang-barang original yang legal namun terjangkau. Dan negara pun tak kehilangan pamornya di dunia internasional. Hehehe… kira-kira satu masalah beres dengan melahirkan segunung masalah lain…hehehehe….
Filed under: Thoughts
pernah ngebayangin gak kalo kita beli kulkas yang mewah (misalkan yang harganya 10-jutaan), tapi ditaronya di ruang tamu?
apa jadinya? NORAK!! alias kampungan… lebih bagus kan kalau kulkas biasa-biasa aja tapi ditaronya di dapur atau ruang makan.
Maksudnya sesuatu harus pada tempatnya.. setuju kan?
Nah, kalau kita nanti lulusan ITB tempatnya dimana ya yang pantes?
MNC-kah atau apa?
Bagaimanapun juga bobroknya institusi ini sekarang, tapi menurut saya kita-kita ini masih merupakan anak-anak bangsa dengan potensi yang lebih besar daripada anak-anak yang lain. Kalau kata “Uncle Ben”-mah “with great power comes great responsibility”.
Jadi peneliti?Bosan!
Jadi Dosen?Gak makmur!
Jadi Birokrat?Malu!
Enaknya kita cari tempat yang aman dan nyaman…
Asiknya kita urusin aja hal-hal yang gampang…
jadi pegawai mungkin…pegawainya siapa???
bule-bule itu??
Apabila kita sebagai kaum lini depan saja bermental ‘budak’
Apa yang akan terjadi dengan saudara-saudara kita yang lain??
Selama ini kita selalu silau, selalu terpana dengan semua yang berbau luar (baik timur maupun barat). Kita selalu menunduk sambil merem, takut.
Karena dulu juga pernah ngobrol bareng igun:
Jadi peneliti emang bosenin, tapi kalau bukan kita siapa lagi? Karena kita memang anak-anak yang telah diberkahi dengan kecerdasan lebih…
Intinya :
Kalau kita aja para pemain lini depan terus bertahan dibelakang, gimana nasib para bek dan gelandang?
Kalau kita aja maunya ngurusin yang gampang, hidup enak(materi), dan cari aman terus, gamana nasib bangsa ini?
Apakah kita memang bangsa budak?
Filed under: Feelings
setelah batu itu pecah
kutemukan sebuah telaga
disana mengalir kedamaian
dan keberanian secara bersamaan
aku bisa duduk berjam-jam
karena matahari tak pernah terbenam
bertahan disenjanya
selamanya…



