Filed under: Documentaries
Akhirnya hari ini (Selasa, 12 Februari 2008) tiba juga. Saya punya istilah yang selalu saya gunakan untuk menghargai hari-hari ‘aneh’ semacam ini: “Hari yang sepertinya tidak pernah datang, akhirnya datang juga.”. Ya kenapa begitu? dari dulu saya selalu membayangkan bahwa hari semacam hari kuliah pertama, hari kelulusan, dan hari konser ini adalah sesuatu yang jauh sekali sehingga rasa-rasanya tidak akan pernah terjadi. Tapi ya begitu saja, akhirnya terjadi juga. Tidak disangka ‘begitu saja’ akhirnya saya lulus jugadari kuliah S1, begitu pula ‘begitu saja’ Bjork datang ke Indonesia dan saya akan menonton konsernya.
Masih teringat betul di tahun 2004, pertama kali saya suka akan musik Bjork. Saya menonton rekaman konser Bjork dari DVD di rumah teman saya. Betapa terpukaunya saya, tidak hanya oleh musiknya tapi juga akan penampilan konser yang begitu luar biasa (one of a kind!). Dalam rekaman konser itu Bjork diiringi oleh sebuah grup orkestra, satu grup choir, seorang pemain harpa, dan dua orang multi-instrumentalis. Begitu kerennya konser itu saya merasa, wah, tidak mungkin ada konser Bjork di Indonesia. Tapi, memang sejak saat itu saya mulai mendengarkan musiknya Bjork, dan sejak saat itu saya menjadi penggemarnya.
Salut untuk Om Adrie Subono, Sang Promotor, yang mampu membujuk Bjork untuk mampir ke Jakarta. Sebetulnya Bjork sedang melakukan rangkaian tur konser album terbarunya (Volta), dan diantara perjalanannya dari Australia ke Korea ‘disempatkan’ untuk tampil di Jakarta. Itulah penyebabnya kenapa konser tersebut diadakan di hari selasa, bukan pada weekend.
Perjalanan dimulai dari naik travel Citi Trans pada pukul 15:00 dari Bandung ke Jakarta. Tidak ada yang spesial dalam perjalanan, kecuali ‘deg-deg-an’ karena ekspektasi. Sampai di Jakarta pukul 18:00, yaitu di Club Store SCBD Sudirman (pool Citi Trans). Saat itu jalanan di Jakarta agak macet tampaknya karena arus kendaraan pulang kantor. Setelah sampai hal pertama yang dilakukan adalah mencari toilet. Kemudian mengambil tiket yang sudah dititipkan di petugas Citi Trans. Terus terang saya agak tegang karena takut kalau-kalau ada yang mencuri tiket tersebut, hal itu mungkin saja terjadi karena tentunya tiket konser tersebut sangatlah berharga. Tidak hanya karena harganya yang mahal, tetapi juga karena unsur ‘kapan lagi Bjork mau konser ke Indonesia?’. Alhamdulillah, betapa leganya melihat dua lembar tiket konser tersebut setelah saya membuka amplop yang bertuliskan “To: Anto, From: Jaka”. Hehe, thanx a lot Jak!!!!


Kemudian saya dan adik saya memutuskan untuk jalan kaki saja ke venue, karena kalau naik taksi justru takut terjebak kemacetan. Akhirnya kami jalan kaki dari SCBD ke Senayan, kami mampir dulu ke Plaza Senayan untuk makan malam. Setelah makan malam lalu jalan kaki ke Arena Tennis Indoor Senayan. Total jalan kaki kurang lebih 2 km, karena kami akan menonton dari tribune (bisa duduk) hal itu tidak jadi masalah.
Ketika kami sudah mendekati gerbang kompleks olahraga Senayan, banyak calo mendekati untuk menawarkan tiket. Saya berpikir, edan juga para calo ini! Karena harga tiketnya akn mahal, berarti mereka mengeluarkan modal yang besar sekali. Apakah memang menguntungkan ya? Ataukah tiket-tiket yang mereka jual itu palsu? Entahlah, saya lalu mempercepat langkah kaki saya agar bisa masuk ke dalam arena sambil menolak para calo itu dengan mengatakan bahwa kami berdua sudah punya tiket.
Ketika saya sampai di arena, saya melihat beberapa hal: rata-rata penonton sebaya dengan saya, banyak sekali orang bule-nya, dan tiket tidak sold-out. Pihak Java Musikindo masih menjual tiket disana ‘bersaing’ dengan para calo. Tidak seperti ketika konser Fall Out Boy dahulu dimana saya merasa ‘ketuaan’, disini saya merasa lebih nyaman. Dan ternyata cukup banyak orang yang datang tanpa tiket, mungkin dengan optimisme untuk mendapatkan tiket di venue saja. Hal itu cukup beralasan karena memang tentunya penggemar Bjork tidak terlalu banyak di Indonesia. Saya lalu membeli sebotol aqua dingin seharga Rp 3000 (mahalnya, entah karena Jakarta atau karena konser?). Sialnya, ketika akan masuk ke dalam venue ternyata membawa minuman dilarang. Sehingga ‘barang terlarang’ itu harus ditinggalkan saja di pintu masuk, padahal belum diminum sama sekali. Walau disarankan untuk diminum dahulu oleh petugas, saya memilih tidak karena takut beser.
Selanjutnya kami masuk ke dalam venue, yaitu kira-kira pada pukul 7:30. Ternyata tribun bagian tengah sudah cukup terisi. Kami kemudian memilih untuk duduk di baris ke dua dari bawah, namun di paling pinggirnya. Posisi ini cukup bagus karena masih di kolom tribun tengah, benar-benar di depan panggung. Hanya saja karena railing, pandangan akan sedikit terganggu. Tapi apabila kami berdiri, kami justru akan medapatkan a perfect view. Mudah-mudahan saja hal itu terjadi.
Saya lihat panggung yang cukup sederhana, dapat dikatakan tidak ada dekorasi. Hanya ada tiga LCD Monitor di panggung yang saya tidak tahu fungsinya apa, dan sebuah drum set. Sebuah stand mic ditengah. Dua layar besar di kiri dan kanan panggung, yang seperti biasa akan membantu penonton melihat aksi yang terjadi di panggung. Terus terang saya agak kecewa waktu itu, walaupun saya juga sudah menduga sebelumnya, bahwa konser yang akan terjadi hanyalah sebuah konser ’sederhana’. Tidak seperti konser yang saya tonton di DVD pada tahun 2004 itu. Tapi tak apalah, ada konsernya saja sudah luar biasa kok.
Namun, pengalaman pra-konser ini menjadi seru karena beberapa saat setelah saya duduk ada sepasang bule yang mencari tempat duduk. Setelah saya sapa dan menawarkan kursi disebelah saya, mereka lalu duduk. Yang menarik adalah kami kemudian mengobrol. Kami berbicara tentang bagaimana konser ini bisa terjadi, bagaimana kira-kira nanti konser ini akan berjalan, dan berbincang sekilas tentang scene musik lokal dsb. Yang menarik adalah beberapa orang tak saling kenal, karena musik, bisa mengobrol dengan ramah dan santai. Wah, hal seperti ini memang yang saya bayangkan dari dulu.
Setelah beberapa saat menunggu, announcer mengumumkan beberapa hal mengenai tata tertib selama konser. Lalu lampu dimatikan, dan muncul sebarisan orang yang merupakan brass section sambil memainkan sebuah lagu, dari sebelah kiri panggung bergerak ke kanan panggung. Semua orang teriak-teriak. Orang-orang di tribun langsung pada berdiri dan berarti, konser telah dimulai…..
Filed under: Documentaries
Kemarin, satu hari yang sangat indah terjadi, entah bagaimana, Tuhan begitu baiknya, saya akhirnya menonton konser Bjork.
Dari dulu saya sangat menyukai musik, dan datang menonton konser adalah salah satu hal yang paling menyenangkan. Ada suatu pengalaman tertentu dalam menonton konser. Mulai dari perjalanan menuju konser yang penuh dengan ekspektasi dan antusiasme. Kemudian detik-detik penantian yang begitu tegang menunggu mulainya konser itu, biasanya kemudian ketika sang artis keluar untuk muncul ke panggung semua penonton langsung teriak histeris. Suasana ketika konser yang begitu heboh, teriak-teriak lepas, merinding-merindingnya, kejutan-kejutan, wah semuanya. Dalam konser (terutama dalam musik rock), terjadi luapan emosi dari ribuan orang yang, wow, membuat suasanya menjadi begitu luar biasa.
Tapi dalam kenyataannya, tidak semua konser menjadi menarik. Hal ini saya alami beberapa kali, sebuah konser menjadi ‘basi’ dan tidak berkesan. Penyebabnya: musisi yang tidak terlalu handal, panitia yang kurang profesional, dan penonton yang ‘cupu’. Yang paling tidak asik adalah ketika para penonton ‘jaim’, duh menyebalkan. Ketika hal itu terjadi saya merasa jadi orang yang hiperaktif, padahal hanya ingin menikmati konsernya saja.
Tapi kemarin, dalam konser Bjork itu harapan saya akan sebuah konser terpenuhi. Memang tidak 100%, ya kira-kira 90%, tapi itu sudah cukup sekali. Saya benar-benar mendapat ‘a damn great concert experience’. Mulai dari perjalanan menuju venue, sampai perjalanan pulang kembali ke Bandung, semua terisi oleh kejadian yang seru. Yang membuat saya kehilangan 10% adalah: saya duduk di tribun (jarak pandang agak jauh, jadi sulit melihat ekspresi si-Bjork-nya), saya hanya menonton berdua dengan adik saya (lebih seru kalo rame-rame pastinya), sehabis pulang langsung cabut dari venue (padahal ingin sekali menunggu dan menyapa Bjork langsung). Tapi well, saya sangat bersyukur sekali atas kejadian kemarin.
Nah, untuk itu saya akan menuliskan bagaimana pengalaman saya itu di blog ini. Saya akan membagi dalam beberapa tulisan. Tulisan yang ini hanya prolog saja begitu, nanti akan ada bagian pra-konser, dalam konser, pasca konser, dan encore. Selamat membaca dan menikmati!
Filed under: Documentaries
Iyah-iyah…tulisan dibawah ini gak seberat itu kok…
cuman tentang alkisah si nTo yang ‘menemukan’ definisi cinta…paling enggak versi dia…atau paling enggak sesuatu yang dia percayai sekarang
bermula dari suatu malam, gw ngobrol ama temen gw, yang rencananya mau nikah bentar lagi. Gw bilang ama dia “Eh, gw lagi deket ama seorang cewe nih. Gw suka banget ama dia, dan dia kayaknya suka juga ama gw. Apa gw jadian aja ya ama dia?”. Temen gw menjawab “Apa yang lo gak suka dari dia?”.
“Hmm..apa ya? Kayaknya sih gak ada?”
“Wah, cari dulu To. Lo harus cari tau apa yang lo gak suka dari dia. Lo harus bikin diri lo iffil dulu ama dia, baru lo bisa memutuskan dengan benar. Kalo lo buat keputusan pas lo lagi seneng-senengnya ya keputusannya pasti gak mateng. Tapi kalo lo udah ilfil tapi lo masih mau jadian ama dia, nah itu baru bener. Gw pribadi juga sebenernya udah ilfil ama pacar gw, tapi gw masih mau mempertahankan semua ini. Justru karena itulah gw lebih yakin ama hubungan kita berdua.”
Penjelasan temen gw itu baru bikin gw ‘ngeh’. Iya juga sih. Cinta itu bukan perasaan. Cinta itu adalah sebuah keputusan, sebuah kata kerja. Untuk tetap menyayangi walaupun kita tidak suka, itulah cinta.
Makanya orang suka bilang mencintai apa adanya. Yaitu ketika udah ilfil tapi masih mau. Memang aneh, kayak gak logis, tapi sebetulnya logis sekali.
Yang perlu diingat, bedakan ’suka’ dengan ‘cinta’. Suka itu adalah perasaan, sedangkan cinta adalah sebuah tindakan. Kalau orang bilang untuk melakukan kebaikan pada seseorang butuh bensin perasaan suka, nah kalo pas gak ada perasaan suka tapi kok masih mau menyayangi, bukannya itu namanya keajaiban. Nah cinta itu memang keajaiban kan?
LOVE IS A VERB, ITS ABOUT WHAT U DO, HAVE DONE, AND WILL DO TO HER/HIM. ITS NOT ABOUT HOW U FEEL.
Nah kalau tahapan mencintai itu bagaimana? Gw sangat suka penjelasan yang dipaparkan oleh Coldplay dalam lagu ‘Yellow’. Ada tiga tahap:
1- I jumped across, i jumped across for U. Maksud dari ‘jumped across’ adalah membuat keputusan tadi, mengambil resiko, dan melakukan sesuatu yang seru. Melompati jurang adalah hal yang gampang, tapi berbahaya. Sama seperti menyatakan perasaan ama seorang cewe, gampang tapi berbahaya seru pula. Ketika kita sudah berani mengambil keputusan itu dan melakukan hal-hal yang seru, maka kita sudah di tahap 1 dalam mencintai.
2- I swam across, i swam across for U. Nah maksud dari ’swam across’ adalah perjuangan. Dalam mencintai kita perlu perjuangan dan pengorbanan. Apa sih resikonya berjuang? gak ada. Apa sih resikonya berenang? Gak ada. Cuman berat bener rasanya. Di tahap ke -dua ini jalannya lebih pasti dan aman, cuman beratnya setengah mati, ya kan? susah kan ngejaga hubungan?
3- I drew a line, i drew a line for U. Yang ini yang paling edan! maksud dari ‘drew a line’ adalah membuat prinsip hidup. Menentukan mana yang benar dan salah. Ketika seseorang sudah membuat garis dalam hidupnya maka jati dirinya menjadi kukuh. Kalo udah bikin garis, siap-siap dapet musuh, karena keberpihakan dirnya sudah jelas. jadi maksud frase ‘i drew a line for u’ adalah: kesediaan untuk menjadikan si seseorang itu bagian dari dirinya. Dan yah, inilah mungkin mencintai yang seutuhnya itu.
Salut bgt gw ama Coldplay yang bisa merangkumkan semuanya dalam lagu yang sangat indah!!!



