UMI~GA~KIKOERU


My Passion (?)
March 20, 2008, 12:02 pm
Filed under: Feelings

Sistem kerja terdiri dari tiga elemen: man, machine, dan material. Menurut saya unsur man memegang peran yang paling signifikan dalam menunjang performansi sistem tersebut.

Ketika dulu saya pernah bilang kalo saya telah menemukan arti hidup (dalam account friendster), itu adalah saat dimana saya sadar passion saya adalah mengenai human and organisational development. Ato mungkin organisasional development through human development ? I dunno, kalo dibalik2 lagi bisa juga tuh. Kayaknya kedua hal tadi sangat berkaitan.

Hasrat ini timbul dipengaruhi oleh riwayat perjalanan hidup saya tentunya, yaitu:

Pengalaman melihat langsung kehidupan yang mencemaskan di lingkungan yang manusia-manusianya terbelakang (Indonesia gitu loh!). Kuliah di Teknik Industri ITB yang bagaikan rujak gila mencampuradukkan segalanya tanpa mau mengakui bahwa dirinya adalah manajemen (masih berusaha ingin diakui sebagai anak gajah ganesha). Membaca buku-buku manajemen yang menggugah prinsip-prinsip kemanusiaan (contohnya: Gung-Ho!). Berteman dengan para aktivis kampus yang begitu peduli akan kemahasiswaan (yah, mahasiswa itu himpunan bagian manusia toh?). Dan kecintaan pada ekskul T’st yang sedang akut butuh kemajuan dan perbaikan (kalian pasti bisa!).

Terus terang ketika diajak sekolah lagi (S2), saya coba mencari informasi akan program-program yang ditawarkan di universitas-universitas di UK. Saya juga tanya mengenai prospektus karir bagi orang2 dengan latar belakang pendidikan di bidang human resource development. Ternyata disana memang bidang itu diutamakan sekali dalam organisasi ato perusahaan, dan banyak jurusan2 yang menarik untuk program S2-nya.

Saat ini jadi pingin sekali sekolah lagi mempelajari hal itu. pasti menyenangkan belajar hal yang memang kita suka. Walaupun jurusannya agak aneh (kurang keren). But, a smile on happy faces of people is what really matters to me!



Ada Yang Aneh Dengan Para Tukang Gorengan Ini
March 16, 2008, 11:07 am
Filed under: Thoughts

gorengan adalah kudapan terpopuler di Indonesia (mungkin, ini cuman basa-basi kata pembuka saja kok). Walaupun saya bukan penggemar berat gorengan, tapi saya sudah mulai mengkonsumsinya sejak kecil sekali dulu (mungkin sejak kelas 1 SD). Dinamika gorengan cukup terekam di kepala saya sehingga saya punya sedikit kisah dan pemikiran mengenainya.

Selain adanya perkembangan variasi produk (jenis gorengan maupun bumbu pelengkap), perkembangan harga justru menjadi perhatian yang lebih menggelitik saya. Dulu sekali saya ingat harga 1 potong gorengan adalah 200, jadi 1000 dapat 5. Kemudian selanjutnya menjadi 1000 dapat 4. Naik lagi hingga 1000 hanya dapat 3. Sampai saat itu saya masih tenang mengikuti perkembangan harga yang menurut saya wajar sesuai dengan arus. Hingga suatu hari (sudah tahun 2008) saya kaget, ketika mau membeli gorengan ternyata kini 1000 cuman dapat 2. Gila, segitu parahnyakah inflasi di Indonesia? Saya langsung panik juga memikirkan bahwa tentunya kenaikan gila-gilaan ini disebabkan kenaikan harga minyak dll. Saya ketakutan ketika membayangkan ketika sekerat pisang yang dibalut tepung terigu dan minyak saja sudah seharga 500 rupiah sepotongnya. Saya panik membayangkan kenaikan-harga-kenaikan-harga gila-gilaan yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun tentunya kepanikan ini hanya sementara dan selanjutnya hari-hari saya kembali normal tanpa adanya pemikiran aneh, paling tidak sampai hari ini (kepanikan sementara ini tentunya fenomena yang disadari pemerintah, sehingga tidak pernah ada keseganan atau keengganan menaikkan harga-harga sembako).

Tadi sore saya membeli gorengan sebanyak 4 biji dan menemukan ‘keanehan’, yang mana ‘keanehan’ itu saya temukan juga ketika membeli gorengan dua hari yang lalu pada tukang gorengan yang berbeda. Jadi saya coba simpulkan ‘keanehan’ itu memang terjadi, dan saya simpulkan ‘keanehan’ itu dipicu oleh naiknya harga gorengan. Agar pembaca tidak penasaran, ‘keanehan’ yang saya maksud adalah:
1- ukuran gorengan yang lebih besar daripada sebelum kenaikan harga
2- kantong kertas digantikan oleh kantong kresek plastik
3- rasa gorengan yang lebih enak (sepertinya penggantian minyak goreng kini lebih sering)

Munculnya keanehan tersebut terus terang melegakan saya, karena:

Saya dari dulu selalu kesal dan curiga setiap ada kenaikan harga komoditas. Saya benci sekali dengan para pedagang yang menaikkan harga dengan persentase yang melebihi persentase kenaikan harga bahan bakar ataupun bahan bakunya. Hal ini seolah-olah menjadikan ‘moment’ kenaikan harga bahan bakar sebagai peluang meningkatkan margin keuntungan, tanpa memikirkan nasib konsumen. Tetapi ‘keanehan’ yang muncul di tukang gorengan ini menandakan bahwa peningkatan pemasukan dari kenaikan harga ternyata dialokasikan lagi untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Salut, dengan mental tidak kemaruk ini. Semoga para business man di Indonesia meniru perilaku yang satu itu, ya!

Tetapi ‘keanehan’ yang benar-benar aneh adalah penggunaan kresek plastik. Memang kresek plastik lebih bersih, kuat, dan tidak bisa ditembus oleh minyak. Tetapi, sampah plastik merupakan limbah yang paling sulit didaur ulang. Mengingat bahwa dunia sudah mau kiamat akibat pemanasan global, saya pilih kantong kertas saja pak!



Konser Bjork: Dalam Konser
March 3, 2008, 3:44 pm
Filed under: Documentaries

Ternyata Bjork membawa pasukan brass section sebanyak 10 orang. Setelah mereka masuk dari sebelah kiri panggung, mereka kemudian langsung mengambil posisinya dalam dua barisan di sebelah kanan panggung. Jadi mereka melintasi panggung sambil membawakan suatu lagu, marching bak tentara gitu. Memang disebelah kanan panggung sebetulnya sudah disiapkan 10 mic untuk brass section tersebut, namun karena kerabunan mata saya jadinya tak terlihat sebelumnya. Adanya brass section ini cukup menyenangkan karena tadinya ekspektasi saya akan konser ini sempat turun. Jadi total ada 15 pemain musik yang mengiringi Bjork, 1 drumer, 1 pemain keyboard dan synth, 3 orang DJ, 10 pemain alat tiup.

Dimulailah konser tersebut dengan lagu pertama yaitu “Earth Intruders”, yaitu sebuah single yang sangat up-beat dan megah dari album terbaru Bjork (Volta). Semua penonton masih teriak-teriak, kami pun yang di tribun langsung berdiri. Terus terang saya masih terkejut dan setengah tidak percaya kalau memang sedang menyaksikan Bjork secara langsung. Penonton ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan, dan terlihat bagaimana Bjork menari-nari sambil membawakan lagu tersebut. Terasa sound dari konser itu memang tidak terlalu bagus, karena ternyata sedikit terlalu keras dan suaranya kurang lembut.

Saya tidak akan menceritakan secara detil kronologis konsernya, tapi mungkin beberapa highlights yang sangat berkesan bagi saya. Konser tersebut sangat keren, bahkan disebut sebagai salah satu konser yang terbaik yang pernah digelar oleh JAVA MUSIKINDO (Sumber: www.javamusikindo.com). Walaupun begitu memang tiket konser ini tidak sampai sold-out.

Bjork menggunakan kostum yang sangat menarik (bagi saya), seperti gaun namun ada sentuhan namun etniknya dengan lapisan-lapisan. Kostumnya terdiri dari warna emas, merah, dan oranye (kalo tidak salah). Bjork tidak menggunakan alas kaki alias ‘nyeker’ tetapi menggunakan semacam stocking berwarna pink muda. Para pemain brass juga menggunakan kostum yang mirip kostum badut ditambah dengan adanya bendera kecil beserta tiangnya yang dipasang di punggung masing-masing pemain. Sedangkan lima pemain band yang lain menggunakan pakaian yang cenderung ’sederhana’ bagaikan pakaian sehari-hari saja. Pemain keyboard menggunakan jeans, jaket dan kaos. Ketiga DJ hanya kemeja atau kaos dan celana panjang. Walaupun cenderung kontras tetapi perbedaan itu justru membuat suasanan di panggung jadi lebih menarik dan seru.

Bjork selalu menari, terutama tangannya, mengikuti irama dan beat dari lagu. Tarian yang khas, dan menawan sekali. Setiap langkah kakinya dan gerakan tubuhnya selalu selaras dengan lagu yang dimainkan. Bahkan ketika dia membetulkan rambutnya saja, masih terlihat kalau gerakan itu termasuk dalam alur gerakan tarian. Benar-benar hebat. Itulah yang saya salut dari artis luar negeri, mereka sangat menjunjung excellence dan profesionalisme.

Bjork terkadang menyanyi ditengah panggung dengan menggunakan stand mic, tapi lebih sering sambil bergerak-gerak disekitaran panggung. Terkadang Bjork maju sampai ke bibir panggung untuk menyapa penonton, tapi hal ini lebih sering dilakukan pada sisi kanan panggung. Mungkin karena sisi kiri panggung lebih penuh.

Tata cahaya sebenarnya agak biasa, namun yang menarik adalah adanya permainan laser. Laser itu hanya digunakan di lagu-lagu tertentu saja, kalau tidak salah dalam “Joga”, “Hyperballad”, “Pluto”,dan “Declare Independence”. Jujur saja tata cahaya tidak memukau saya.

Setiap gerakan, kostum, tata cahaya, blocking panggung dan aspek pertunjukkan yang lain tadi pastinya bukan buah spontanitas. Pengkonsepan yang betul-betul dipikirkan pasti telah dilakukan sebelumnya oleh artis tersebut agar berhasil menampilkan suatu pertunjukkan yang bagus. Latihan keras dengan kedisiplinan juga dipegang teguh, dibuktikan dengan minimalnya cela atau kesalahan yang terjadi dalam konser. Suara Bjork selalu stabil mulai dari awal sampai akhir. Hebat sekali.

Kedua layar besar di sebelah panggung terkadang menyoroti Bjork, apabila dia sedang bernyanyi di tengah. Terkadang menyoroti para pemain brass, dan yang paling keren adalah ketika menyoroti panel instrumen para DJ. Ternyata para DJ tidak menggunakan groove box biasa, melainkan panel LCD yang berupa layar sentuh. Dimana mereka mengendalikan musik yang dimainkan dari layar sentuh ini. Yang keren adalah karena layar sentuh, maka tentunya panel bisa berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan lagu. Di depan setiap DJ juga terdapat LCD monitor yang selalu menyoroti apa yang terjadi dengan panel digital itu, jadi setiap saat penonton dapat mengiuti permainan ‘jari-jari’ para DJ. Hal ini cukup memukau.

Dan yang paling canggih adalah satu buah instrumen ‘aneh’ yang bernama Reactable. Instrumen ini juga berupa layar sentuh, hanya saja ukurannya cukup besar dan bentuknya bulat seperti meja penggorengan martabak. Tetapi penggunaan alat musik ini tidak hanya dengan cara menekan/memijit layar sentuh, namun juga dengan meletakkan benda-benda seperti coin. Dimana setiap koin memiliki fungsi berbeda yang menyebabkan efek suara tertentu. Alat musik ini sepertinya untuk menggantikan fungsi synthetizer, tetapi jauh lebih dinamis. Yang membuat keren sebetulnya adalah bahwa alat musik ini masih berupa prototype yang sedang dikembangkan di sebuah universitas di spanyol, bahkan di seluruh dunia baru ada 5 unit. Untuk informasi lebih tentang instrumen ini buka http://reactable.iua.upf.edu/ .

BJORK memulai konsernya dengan intro musik Brenid pid vitar, yang langsung disambung dengan lagu Earth Intruder, Unvarel, All is Full of Love, Joga, Pagan Poetry, Pleasure is all mine, Hidden Place, Desired Constellation, Army of Me, Bachelorette, Cover Me, Wanderlust, Hyperballad, Pluto, Anchor Song, Declared Independence. 19 lagu dilahap Bjork dengan santai. Kadang dia setengah berdansa diantara lagu-lagunya yang berirama. Salah satu lagunya Earth Intruder adalah lagu yang diilhami dari bencana Tsunami yang melanda Aceh, yang diambil dari album terbarunya Volta. Bjork sendiri pernah berkunjung ke Aceh pada Januari 2006 dalam rangka misi Unicef. Sebuah apresiasi simpati yang terpuji buat Bjork dengan menghadirkan lagu tersebut di bumi Indonesia. (Sumber: www.javamusikindo.com)

Sayangnya untuk urusan komunikasi, dapat dikatan cukup minimalis. karena kata-katayang keluarkan Bjork untuk penonton hanyalah sebatas thank you-thank you saja. Paling Bjork cukup banyak berucap ketika dia memperkenalkan anggota band-nya dan ketika dia memohon maaf karena tidak bisa berbahasa indonesia.

Best moments dalam konser in bagi saya adalah ketika dengan lantangnya saya teriak “Bjork, I LOVE YOU!!!”. Dari pertama saya menyukai musik Bjork, memang saya benar-benar charmed olehnya. Teriakan yang saya lakukan itu memang sungguh-sunguh loh. Rasanya luar biasa, ketika meneriakan suatu hal seperti itu. Belum pernah saya lakukan hal itu sebelumnya, pada cewe kecengan saya saja belum pernah mengakui perasaan dan mengekspresikannya selugas dan selantang waktu itu. Mantap. Kemudian momen terbaik lainnya adalah ketika mau encore. Sebelum lagu “pluto” dibawakan, Bjork berkata bahwa ini adalah lagu terakhirnya. Namun setelah dia keluar panggung, semua penonton masih khidmat dalam arena. Lalu semua mulai berteriak “We mant more!”. Bagaikan ombak dilautan yang kadang pasang dan surut, teriakan itu mengeras lalu sempat juga lenyap. Tapi kemudian muncul lagi, dan terus gelombang teriakan penuh harapan itu dikumandangkan penonton. Yang sangat luar biasa adalah ketika saya terkadang menjadi pemicu teriakan itu. Dengan mengsinkronkan ritme teriakan dengan penonton lain akhirnya bisa juga ‘mengajak’ seluruh penonton memanggil Bjork untuk keluar lagi. Luapan kebahagiaan yang luar biasa, ledakan energi yang membuat saya meloncat-loncat dan memeluk-meluk adik saya saking senangnya karena Bjork akhirnya muncul lagi ke panggung. Betapa senangnya karena harapan, dan usaha yang dikeluarkan terjawab dengan sempura. Yang menyempurnakan encore ityu adalah pada lagu terakhirnya yaitu “Declare Independence” ada bagian lyric yang berbunyi “Raise your flag!”, dan entah bagaimana ternayata ada sekelompok penonton di baris depan yang kemudian  mengeluarkan dan mengibarkan bendera merah putih milik Indonesia. Suasana arena jadi makin menggila ketika itu. Mantaps!!!!

Hingga akhirnya konser pun ditutup, namun butuh waktu yang cukup lama untuk membuat para penonton rela meninggalkan venue. Cukup lama kami semua tetap nongkrong disana. Mungkin karena pengaruh ’sihir’ dari kemenawanan  konser itu. Semua masih terbius dan ketagihan tak mau bangun dari mimpi indah itu. Orang-orang bersenda gurau, foto-fotoan, atau hanya sekedar membiarkan dirinya terhanyut oleh bayangan keajaiban yang baru saja terjadi. Saya sendiri nangkring di railing, menilhat arus keluarnya penonton di kelas festival secara perlahan dan mengamati crew bjork (soundmannya mungkin) sedang beres-beres di booth mixernya. Sampai venue mulai kosong dan panitia JavaMusikindo ‘mengusir’ kami agar keluar dari venue, akhirnya saya pergi juga dan pipis dulu di wc dekat pintu keluar gedung.