Filed under: Thoughts
Well yah, i’ve been working since august 2008. When i started, i said to myself that i want to deliver excellent performance. I tried, i really did, i’m not that lazy-happy guy anymore. But my status now is: unhappy with my own performance.
After some thinking i figured out these:
Your performance in work doesn’t determined by how good you are at solving problems, but instead, based on how smart you are in founding problems.
Imagine you are still in college, and you are having an exam. Your mark on the subject surely depends on how good you score on the exam, rite? The exam is about to start, you receive the problem sheet/paper and you see there are (say) five problems on it. You have studied hard, so you got four out of five correct answers. There you go, you get 80/100 score, and this should give you an ‘A’ mark. Congratulations.
In the office things are different. When you receive the problem sheet/paper, it would be blank! So you have to find and write your own problems (then solve them of course). Say, you can find 4 problems and solve them all. You’re score is not 100/100, but 4. See, in the office your score is not by percentage but based on the absolute value of each problems. So if someone found up 8 problems and only solve 5, he/she would still score more than you do.
Plus, it is not only about how much problems you discover but also about how important the problems are. One problem can weight more than other problems, so not all problem counted as 1 point. Some really important problems can even score 10 times more point. To boost up your perfomance in the office , you need more than just good at finding problems, but good at finding the ‘right’ problems (this could be more important, quality VS quantity).
The thing is: who judges if a problem is ‘important’ or not? Theoritically, it is the company. The vision, mission, business process, and KPIs. But practically saying: YOUR BOSS, or maybe: YOUR BOSS’ES BOSS.
So to excel in work we need to be more than just clever, but we have to be cunning also. Go deep to understand what our boss and company wants from us. Mingle in and be one with the company to know if there are problems to be solved, as problems are the seed of improvements. So i guess, to be successful you need more than just your brain but also your mentality and maturity. that’s tough man!
Filed under: Thoughts
gorengan adalah kudapan terpopuler di Indonesia (mungkin, ini cuman basa-basi kata pembuka saja kok). Walaupun saya bukan penggemar berat gorengan, tapi saya sudah mulai mengkonsumsinya sejak kecil sekali dulu (mungkin sejak kelas 1 SD). Dinamika gorengan cukup terekam di kepala saya sehingga saya punya sedikit kisah dan pemikiran mengenainya.
Selain adanya perkembangan variasi produk (jenis gorengan maupun bumbu pelengkap), perkembangan harga justru menjadi perhatian yang lebih menggelitik saya. Dulu sekali saya ingat harga 1 potong gorengan adalah 200, jadi 1000 dapat 5. Kemudian selanjutnya menjadi 1000 dapat 4. Naik lagi hingga 1000 hanya dapat 3. Sampai saat itu saya masih tenang mengikuti perkembangan harga yang menurut saya wajar sesuai dengan arus. Hingga suatu hari (sudah tahun 2008) saya kaget, ketika mau membeli gorengan ternyata kini 1000 cuman dapat 2. Gila, segitu parahnyakah inflasi di Indonesia? Saya langsung panik juga memikirkan bahwa tentunya kenaikan gila-gilaan ini disebabkan kenaikan harga minyak dll. Saya ketakutan ketika membayangkan ketika sekerat pisang yang dibalut tepung terigu dan minyak saja sudah seharga 500 rupiah sepotongnya. Saya panik membayangkan kenaikan-harga-kenaikan-harga gila-gilaan yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun tentunya kepanikan ini hanya sementara dan selanjutnya hari-hari saya kembali normal tanpa adanya pemikiran aneh, paling tidak sampai hari ini (kepanikan sementara ini tentunya fenomena yang disadari pemerintah, sehingga tidak pernah ada keseganan atau keengganan menaikkan harga-harga sembako).
Tadi sore saya membeli gorengan sebanyak 4 biji dan menemukan ‘keanehan’, yang mana ‘keanehan’ itu saya temukan juga ketika membeli gorengan dua hari yang lalu pada tukang gorengan yang berbeda. Jadi saya coba simpulkan ‘keanehan’ itu memang terjadi, dan saya simpulkan ‘keanehan’ itu dipicu oleh naiknya harga gorengan. Agar pembaca tidak penasaran, ‘keanehan’ yang saya maksud adalah:
1- ukuran gorengan yang lebih besar daripada sebelum kenaikan harga
2- kantong kertas digantikan oleh kantong kresek plastik
3- rasa gorengan yang lebih enak (sepertinya penggantian minyak goreng kini lebih sering)
Munculnya keanehan tersebut terus terang melegakan saya, karena:
Saya dari dulu selalu kesal dan curiga setiap ada kenaikan harga komoditas. Saya benci sekali dengan para pedagang yang menaikkan harga dengan persentase yang melebihi persentase kenaikan harga bahan bakar ataupun bahan bakunya. Hal ini seolah-olah menjadikan ‘moment’ kenaikan harga bahan bakar sebagai peluang meningkatkan margin keuntungan, tanpa memikirkan nasib konsumen. Tetapi ‘keanehan’ yang muncul di tukang gorengan ini menandakan bahwa peningkatan pemasukan dari kenaikan harga ternyata dialokasikan lagi untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Salut, dengan mental tidak kemaruk ini. Semoga para business man di Indonesia meniru perilaku yang satu itu, ya!
Tetapi ‘keanehan’ yang benar-benar aneh adalah penggunaan kresek plastik. Memang kresek plastik lebih bersih, kuat, dan tidak bisa ditembus oleh minyak. Tetapi, sampah plastik merupakan limbah yang paling sulit didaur ulang. Mengingat bahwa dunia sudah mau kiamat akibat pemanasan global, saya pilih kantong kertas saja pak!
Filed under: Thoughts
Karena lebaran sekarang gw tetep di Bandung, jadi pertama kalinya gw solat Id di kampus. Gw berangkat bareng-bareng keluarga gw. Pas nyampe depan gerbang Ganesa, gw kaget bgt. Banyak bgt pengemis di sana. Dan langsung mendekati gw sekeluarga, tapi gw pribadi waktu itu langsung mempercepat langkah masuk ke dalem. Dan beneran, gw bingung abis! Ada rasa bersalah, “gmana sih nih org lagi hari raya bukannya bagi-bagi rejeki!”. Tapi emang dalem diri gw juga ada takutnya, “ntar kalo satu gw kasih yang lain ikutan juga lagi, bisa repot”. Dan parahnya gw sempet kesel, “wah dasar nih pengemis mau manfaatin momen!”. Kacau emang, gw-nya.Dan lebih kaget lagi abis solat gw keluar kampus, JRENG!! Pengemisnya tambah banyak. Bahkan sampai ‘mengerubungi’ mobil-mobil yang parkir disana. Dan kata temen gw pas malem takbiran tuh alun-alun memang dipenuhi juga oleh pengemis. Konon pengemis dari luar kota juga banyak yang tour.
Gw juga dulu sempet kesel. Pernah suatu idul adha di sebuah masjid di Surabaya, dua orang fakir (mungkin ya?) marah-marah. Gara-gara keabisan jatah. Buset, oportunis gini euy. Waduh-waduh gmana nih? Kayaknya gw sih yang salah. Mungkin hati gw busuk yah…? Kenapa coba gw gak ngasih aja gitu serelanya…
Jadi inget juga ironi waktu itu. Gw bareng temen gw lagi duduk-duduk malem-malem di Braga. Dan ada sekelompok anak kecil ngemis-ngemis ama kita. Dan gw sih waktu itu ‘bulet’ gak akan ngasih. Tapi temen gw dilema gitu. Dia pengen banget ngasih karena kasian (ato empati gw gak tau) tapi dia bilang ngasih itu juga bukan solusi. Jadi malah bingung sendiri dan kepengaruh gw akhirnya ikutan gak ngasih. I’m guilty as charge!!
Gw pribadi pernah dibilangin, kalo ngasih ke pengemis itu cuman akan bikin mereka ketagihan. Karena mereka itu seperti menikmati kemiskinannya. Banyak yang bilang pengemis itu lagaknya aja yang miskin, padahal dari penghasilan mereka bisa aja mereka tuh berkecukupan. Ayo coba riset. Kita teliti income rate seorang pengemis tuh sebenernya berapa sih? Ada yang bilang lebih baik kalo mau ngasih ke lembaga aja jadi di organisir.
Ada sempet ide, gmana kalo kita bersihkan aja bumi ini dari para pengemis. Ya, bantai mereka. Lalu kita mulai kehidupan manusia yang tanpa pengemis dan ciptakan sistem yang tak akan memunculkan pengemis. Hehehe… Soalnya pusing bgt nih gmana ya? Supaya bisa menciptakan peradaban yang bener2 makmur semuanya.
Dan sebenernya kita ngasih ke pengemis itu buat apa sih? Buat membantu mereka, ato kepuasan pribadi? Ingin merasa superior. Sesuai dengan pelajaran PPKN SD dulu. Atau emang bener-bener ingin berbagi rejeki, pingin mereka memperoleh kehidupan yang lebih baik. Apakah memberi itu menjadi sebuah “PR” bagi mereka yang mampu. Atau “PR”-nya itu adalah mengentaskan kemiskinan. Beda loh MEMBERI dan MENGENTASKAN. Kayaknya seharusnya dua-duanya yah…jgn sok-sokan ya gak? But please give me at least one feasible solution to end this poverty crisis. Karena jujur aja, penderitaan akibat kemiskinan tuh kan gak cuman yang lapar doank yang ngerasain. Yang kaya juga pasti menderita. Misal lagi enak-enak makan di jalan, tiba-tiba seorang pengemis lusuh, kotor, bau datang…hehe. Pasti Bt lo kan? lagi pake baju bagus dijalan tiba-tiba celana lo dipegang ama pengemis penyakitan yang memohon sepeser duit. Ugh! ngaku aja pasti risih kan?
Jadi inget lagi, dulu pernah dinasehatin. Katanya ntar kalo gw jd orang miskin, jgn ampe gw menunjukkan kemiskinan gw. Karena bisa ganggu para orang kaya. Dan kalo gw jadi orang kaya jgn juga tunjukin kekayaan gw. Ntar yang kismin sakit ati. Biasa-biasa aja gitu deh.
Coba bayangkan sebuah peradaban dimana semuanya sejahtera. Kalo kita tajir kita gak akan merasa bersalah. Temen-temen gmana nih? Gw emang butuh bgt pandangan dari kalian ttg hal ini…Gw tunggu comment-nya yah! Makasih!
Filed under: Thoughts
Karena segala masalah ekonomi yang sedang melanda negeri ini, entah langkah yang baik atau tidak tapi kenyataannya subsidi berbagai sektor dikurangi. Hal ini tentunya mengundang kemarahan rakyat, karena rakyat punya kebutuhan.
Nah, selain masalah ekonomi kita juga punya berbagai masalah lain. Dan yang menurut saya paling genting adalah masalah moral masyarakat kita. Lihat saja titip absen merajalela di kebanyakan kampus, kkn masih lazim, dan lain-lain. Yang paling menarik pehatian saya adalah masalah bajak-membajak musik.
Saya pribadi belum punya sikap apakah pro atau kontra, tapi tak bisa dipungkiri hal ini memang sebuah pencurian. Sungguhpun kebiasaan membajak dapat mempengaruhi mental bangsa. Salah duanya mental apresiatif dan kreatif. Walau memang dampak yang cukup membantu juga ada, misalnya menambah lapangan kerja, dan meningkatkan pewacanaan buat masyarakat.
Yang cukup menarik, teman saya Saska punya definisi lain mengenai pembajakan. Menurutnya kegiatan menduplikasi karya orang lain untuk kemudian dijual adalah bukan sebuah pembajakan. Pembajakan adalah ketika kita mengklaim sebuah karya cipta orang lain sebagai karya kita. Nah bagaimana pendapat teman-teman?
Jadi gimana, kalo dibuat subsidi untuk musik dan film. Sehingga masyarakat dapat menikmati barang-barang original yang legal namun terjangkau. Dan negara pun tak kehilangan pamornya di dunia internasional. Hehehe… kira-kira satu masalah beres dengan melahirkan segunung masalah lain…hehehehe….
Filed under: Thoughts
pernah ngebayangin gak kalo kita beli kulkas yang mewah (misalkan yang harganya 10-jutaan), tapi ditaronya di ruang tamu?
apa jadinya? NORAK!! alias kampungan… lebih bagus kan kalau kulkas biasa-biasa aja tapi ditaronya di dapur atau ruang makan.
Maksudnya sesuatu harus pada tempatnya.. setuju kan?
Nah, kalau kita nanti lulusan ITB tempatnya dimana ya yang pantes?
MNC-kah atau apa?
Bagaimanapun juga bobroknya institusi ini sekarang, tapi menurut saya kita-kita ini masih merupakan anak-anak bangsa dengan potensi yang lebih besar daripada anak-anak yang lain. Kalau kata “Uncle Ben”-mah “with great power comes great responsibility”.
Jadi peneliti?Bosan!
Jadi Dosen?Gak makmur!
Jadi Birokrat?Malu!
Enaknya kita cari tempat yang aman dan nyaman…
Asiknya kita urusin aja hal-hal yang gampang…
jadi pegawai mungkin…pegawainya siapa???
bule-bule itu??
Apabila kita sebagai kaum lini depan saja bermental ‘budak’
Apa yang akan terjadi dengan saudara-saudara kita yang lain??
Selama ini kita selalu silau, selalu terpana dengan semua yang berbau luar (baik timur maupun barat). Kita selalu menunduk sambil merem, takut.
Karena dulu juga pernah ngobrol bareng igun:
Jadi peneliti emang bosenin, tapi kalau bukan kita siapa lagi? Karena kita memang anak-anak yang telah diberkahi dengan kecerdasan lebih…
Intinya :
Kalau kita aja para pemain lini depan terus bertahan dibelakang, gimana nasib para bek dan gelandang?
Kalau kita aja maunya ngurusin yang gampang, hidup enak(materi), dan cari aman terus, gamana nasib bangsa ini?
Apakah kita memang bangsa budak?



