Documentaries

Konser Bjork: Dalam Konser

Ternyata Bjork membawa pasukan brass section sebanyak 10 orang. Setelah mereka masuk dari sebelah kiri panggung, mereka kemudian langsung mengambil posisinya dalam dua barisan di sebelah kanan panggung. Jadi mereka melintasi panggung sambil membawakan suatu lagu, marching bak tentara gitu. Memang disebelah kanan panggung sebetulnya sudah disiapkan 10 mic untuk brass section tersebut, namun karena kerabunan mata saya jadinya tak terlihat sebelumnya. Adanya brass section ini cukup menyenangkan karena tadinya ekspektasi saya akan konser ini sempat turun. Jadi total ada 15 pemain musik yang mengiringi Bjork, 1 drumer, 1 pemain keyboard dan synth, 3 orang DJ, 10 pemain alat tiup.

Dimulailah konser tersebut dengan lagu pertama yaitu “Earth Intruders”, yaitu sebuah single yang sangat up-beat dan megah dari album terbaru Bjork (Volta). Semua penonton masih teriak-teriak, kami pun yang di tribun langsung berdiri. Terus terang saya masih terkejut dan setengah tidak percaya kalau memang sedang menyaksikan Bjork secara langsung. Penonton ikut bernyanyi sambil bertepuk tangan, dan terlihat bagaimana Bjork menari-nari sambil membawakan lagu tersebut. Terasa sound dari konser itu memang tidak terlalu bagus, karena ternyata sedikit terlalu keras dan suaranya kurang lembut.

Saya tidak akan menceritakan secara detil kronologis konsernya, tapi mungkin beberapa highlights yang sangat berkesan bagi saya. Konser tersebut sangat keren, bahkan disebut sebagai salah satu konser yang terbaik yang pernah digelar oleh JAVA MUSIKINDO (Sumber: www.javamusikindo.com). Walaupun begitu memang tiket konser ini tidak sampai sold-out.

Bjork menggunakan kostum yang sangat menarik (bagi saya), seperti gaun namun ada sentuhan namun etniknya dengan lapisan-lapisan. Kostumnya terdiri dari warna emas, merah, dan oranye (kalo tidak salah). Bjork tidak menggunakan alas kaki alias ‘nyeker’ tetapi menggunakan semacam stocking berwarna pink muda. Para pemain brass juga menggunakan kostum yang mirip kostum badut ditambah dengan adanya bendera kecil beserta tiangnya yang dipasang di punggung masing-masing pemain. Sedangkan lima pemain band yang lain menggunakan pakaian yang cenderung ‘sederhana’ bagaikan pakaian sehari-hari saja. Pemain keyboard menggunakan jeans, jaket dan kaos. Ketiga DJ hanya kemeja atau kaos dan celana panjang. Walaupun cenderung kontras tetapi perbedaan itu justru membuat suasanan di panggung jadi lebih menarik dan seru.

Bjork selalu menari, terutama tangannya, mengikuti irama dan beat dari lagu. Tarian yang khas, dan menawan sekali. Setiap langkah kakinya dan gerakan tubuhnya selalu selaras dengan lagu yang dimainkan. Bahkan ketika dia membetulkan rambutnya saja, masih terlihat kalau gerakan itu termasuk dalam alur gerakan tarian. Benar-benar hebat. Itulah yang saya salut dari artis luar negeri, mereka sangat menjunjung excellence dan profesionalisme.

Bjork terkadang menyanyi ditengah panggung dengan menggunakan stand mic, tapi lebih sering sambil bergerak-gerak disekitaran panggung. Terkadang Bjork maju sampai ke bibir panggung untuk menyapa penonton, tapi hal ini lebih sering dilakukan pada sisi kanan panggung. Mungkin karena sisi kiri panggung lebih penuh.

Tata cahaya sebenarnya agak biasa, namun yang menarik adalah adanya permainan laser. Laser itu hanya digunakan di lagu-lagu tertentu saja, kalau tidak salah dalam “Joga”, “Hyperballad”, “Pluto”,dan “Declare Independence”. Jujur saja tata cahaya tidak memukau saya.

Setiap gerakan, kostum, tata cahaya, blocking panggung dan aspek pertunjukkan yang lain tadi pastinya bukan buah spontanitas. Pengkonsepan yang betul-betul dipikirkan pasti telah dilakukan sebelumnya oleh artis tersebut agar berhasil menampilkan suatu pertunjukkan yang bagus. Latihan keras dengan kedisiplinan juga dipegang teguh, dibuktikan dengan minimalnya cela atau kesalahan yang terjadi dalam konser. Suara Bjork selalu stabil mulai dari awal sampai akhir. Hebat sekali.

Kedua layar besar di sebelah panggung terkadang menyoroti Bjork, apabila dia sedang bernyanyi di tengah. Terkadang menyoroti para pemain brass, dan yang paling keren adalah ketika menyoroti panel instrumen para DJ. Ternyata para DJ tidak menggunakan groove box biasa, melainkan panel LCD yang berupa layar sentuh. Dimana mereka mengendalikan musik yang dimainkan dari layar sentuh ini. Yang keren adalah karena layar sentuh, maka tentunya panel bisa berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan lagu. Di depan setiap DJ juga terdapat LCD monitor yang selalu menyoroti apa yang terjadi dengan panel digital itu, jadi setiap saat penonton dapat mengiuti permainan ‘jari-jari’ para DJ. Hal ini cukup memukau.

Dan yang paling canggih adalah satu buah instrumen ‘aneh’ yang bernama Reactable. Instrumen ini juga berupa layar sentuh, hanya saja ukurannya cukup besar dan bentuknya bulat seperti meja penggorengan martabak. Tetapi penggunaan alat musik ini tidak hanya dengan cara menekan/memijit layar sentuh, namun juga dengan meletakkan benda-benda seperti coin. Dimana setiap koin memiliki fungsi berbeda yang menyebabkan efek suara tertentu. Alat musik ini sepertinya untuk menggantikan fungsi synthetizer, tetapi jauh lebih dinamis. Yang membuat keren sebetulnya adalah bahwa alat musik ini masih berupa prototype yang sedang dikembangkan di sebuah universitas di spanyol, bahkan di seluruh dunia baru ada 5 unit. Untuk informasi lebih tentang instrumen ini buka http://reactable.iua.upf.edu/ .

BJORK memulai konsernya dengan intro musik Brenid pid vitar, yang langsung disambung dengan lagu Earth Intruder, Unvarel, All is Full of Love, Joga, Pagan Poetry, Pleasure is all mine, Hidden Place, Desired Constellation, Army of Me, Bachelorette, Cover Me, Wanderlust, Hyperballad, Pluto, Anchor Song, Declared Independence. 19 lagu dilahap Bjork dengan santai. Kadang dia setengah berdansa diantara lagu-lagunya yang berirama. Salah satu lagunya Earth Intruder adalah lagu yang diilhami dari bencana Tsunami yang melanda Aceh, yang diambil dari album terbarunya Volta. Bjork sendiri pernah berkunjung ke Aceh pada Januari 2006 dalam rangka misi Unicef. Sebuah apresiasi simpati yang terpuji buat Bjork dengan menghadirkan lagu tersebut di bumi Indonesia. (Sumber: www.javamusikindo.com)

Sayangnya untuk urusan komunikasi, dapat dikatan cukup minimalis. karena kata-katayang keluarkan Bjork untuk penonton hanyalah sebatas thank you-thank you saja. Paling Bjork cukup banyak berucap ketika dia memperkenalkan anggota band-nya dan ketika dia memohon maaf karena tidak bisa berbahasa indonesia.

Best moments dalam konser in bagi saya adalah ketika dengan lantangnya saya teriak “Bjork, I LOVE YOU!!!”. Dari pertama saya menyukai musik Bjork, memang saya benar-benar charmed olehnya. Teriakan yang saya lakukan itu memang sungguh-sunguh loh. Rasanya luar biasa, ketika meneriakan suatu hal seperti itu. Belum pernah saya lakukan hal itu sebelumnya, pada cewe kecengan saya saja belum pernah mengakui perasaan dan mengekspresikannya selugas dan selantang waktu itu. Mantap. Kemudian momen terbaik lainnya adalah ketika mau encore. Sebelum lagu “pluto” dibawakan, Bjork berkata bahwa ini adalah lagu terakhirnya. Namun setelah dia keluar panggung, semua penonton masih khidmat dalam arena. Lalu semua mulai berteriak “We mant more!”. Bagaikan ombak dilautan yang kadang pasang dan surut, teriakan itu mengeras lalu sempat juga lenyap. Tapi kemudian muncul lagi, dan terus gelombang teriakan penuh harapan itu dikumandangkan penonton. Yang sangat luar biasa adalah ketika saya terkadang menjadi pemicu teriakan itu. Dengan mengsinkronkan ritme teriakan dengan penonton lain akhirnya bisa juga ‘mengajak’ seluruh penonton memanggil Bjork untuk keluar lagi. Luapan kebahagiaan yang luar biasa, ledakan energi yang membuat saya meloncat-loncat dan memeluk-meluk adik saya saking senangnya karena Bjork akhirnya muncul lagi ke panggung. Betapa senangnya karena harapan, dan usaha yang dikeluarkan terjawab dengan sempura. Yang menyempurnakan encore ityu adalah pada lagu terakhirnya yaitu “Declare Independence” ada bagian lyric yang berbunyi “Raise your flag!”, dan entah bagaimana ternayata ada sekelompok penonton di baris depan yang kemudian  mengeluarkan dan mengibarkan bendera merah putih milik Indonesia. Suasana arena jadi makin menggila ketika itu. Mantaps!!!!

Hingga akhirnya konser pun ditutup, namun butuh waktu yang cukup lama untuk membuat para penonton rela meninggalkan venue. Cukup lama kami semua tetap nongkrong disana. Mungkin karena pengaruh ‘sihir’ dari kemenawanan  konser itu. Semua masih terbius dan ketagihan tak mau bangun dari mimpi indah itu. Orang-orang bersenda gurau, foto-fotoan, atau hanya sekedar membiarkan dirinya terhanyut oleh bayangan keajaiban yang baru saja terjadi. Saya sendiri nangkring di railing, menilhat arus keluarnya penonton di kelas festival secara perlahan dan mengamati crew bjork (soundmannya mungkin) sedang beres-beres di booth mixernya. Sampai venue mulai kosong dan panitia JavaMusikindo ‘mengusir’ kami agar keluar dari venue, akhirnya saya pergi juga dan pipis dulu di wc dekat pintu keluar gedung.

One thought on “Konser Bjork: Dalam Konser

  1. waooo… saya rugiii… saya ndak bisa nonton bjork karena ndak ada duit alias bokeek…

    btw, membaca review konser di atas. kekecewaan bisa terobati!!

    yess. bjork memang amazing!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s