Thoughts

Nikmatnya Jadi Mahasiswa

Nikmatnya jadi Mahasiswa, sampai jadi lupa apa perannya. Saat saya menulis ini saya bukan Mahasiswa, tapi alhamdulillah calon Mahasiswa. Saya mau bicara tentang para Mahasiswa seperti dulu saya.

Tadi siang menjelang pergi les di CCF, saya melintas kampus ITB. Sambil melihat dan menerawang para Mahasiswa disana, saya jadi teringat jaman dulu. Karena asam-garam yang saya punya sekarang, saya jadi punya pandangan baru dibanding dulu. Peran Mahasiswa? Ya untuk belajar, mendalami ilmu sesuai bidangnya agar nanti bisa berkarya sebaik mungkin untuk kesejahteraan masyarakat. Apakah dulu saya paham betul itu? Tidak terlalu. Hanya 2,5 tahun dari 4,5 tahun saya berkuliah di ITB saya fokus belajar. Sisanya? Mungkin, diantara semua permainan pingpong, bridge, cerita cinta, rapat kaderisasi, tekanan tugas-tugas, mangascan, dorama, forum rileks, bergaul, dll, arti peran tadi terlupakan.

Peran Mahasiswa, tentunya menuntut keseriusan tingkat tinggi dalam belajar. Kenapa? Karena tentunya masyarakat berharap akan karya-karya berkualitas tinggi yang hanya mungkin dihasilkan oleh seorang ahli. Tidak mudah untuk menjadi seorang ahli, butuh pengorbanan dan usaha keras. Namun, siapapun mampu sebenarnya asalkan dia mau. Benar-benar mau.

Saya beberapa kali melihat kasus seseorang gagal dalam perkuliahannya. Dan saya sedih, hal ini adalah indikasi ada masalah dalam sistem pendidikan. Siapakah yang salah? Menurut saya ada dua.

Mahasiswa, terkadang masuk satu jurusan tanpa paham betul arahan profesi dari jurusan tersebut. Masalah muncul ketika ternyata jurusan tersebut sangatlah sulit ilmunya. Tanpa motivasi yang kuat, dia bisa menjadi gagal mendapat nilai bagus atau bahkan DO. Bayangkan bila memang hasrat seorang mahasiswa sesuai dengan jurusan yang dia ikuti, tentunya tanpa disuruh pun dia akan membaca text book, masuk ke perpustakaan, berlatih mengerjakan soal, melakukan proyek-proyek penelitian, dsb.  Saya berharap di masa depan, kita akan lebih sering dan lebih awal bertanya pada para siswa SMU khususnya, KAMU MAU JADI APA? Dan seperti sekarang yang terjadi di ITB semakin banyak pecahan program studi, menurut saya ini bagus asalkan mereka juga buat brosur-brosur informasi yang bagus dan jelas agar para calon mabahsiswa tidak kebingungan. Jadi para calon mahasiswa semakin mudah memilah-milah arahan profesi dan mencari yang paling sesuai dengan cita-cita mereka. Sistem matrikulasi juga bagus, karena mereka jadi punya kesempatan kedua untuk mengevaluasi pilihan mereka. Apalagi setelah jadi bagian civitas akademis pastinya punya akses informasi yang lebih baik akan identitas tiap jurusan yang ada.

Dosen, haruslah berkomitmen untuk menjadikan mahasiswanya berhasil. Tidak boleh ada lagi dosen yang mangkir dari kewajibannya menjadi seorang pengajar dan pendidik yang mumpuni. Dulu saya tahu, ada dosen yang membosankan, jarang datang, tidak bisa memotivasi, dll. Itu semua adalah malpraktek yang fatal. Para mahasiswa adalah benih-benih unggulan yang penting bagi bangsa. Kalo potensi mereka disabotase oleh para pengajar yang tidak kompeten ini sama saja dengan kejahatan. Dosen pun harus mau meluangkan waktunya untuk menegaskan pada tiap Mahasiswa, bila memang bukan ini jalan hidup yang kamu mau silahkan ganti, NO HARD FEELING. Saya terinspirasi oleh seorang professor teknik material di MIT. Yang mana pada satu hari bukannya mengajarkan materi malahan berpidato tentang peran seorang insinyur. Tapi dia menekankan, bahwa pada saat itu, yang paling penting dilakukan tiap-tiap mahasiswa adalah untuk mundur sejenak dan merenung untuk apa mereka ada disana. Dia menggunakan kisah seorang mahasiswa yang dulu pernah dia ajar, akhirnya cuti satu tahun, tetapi ketika kembali menunjukkan suatu keseriusan yang tak terkira.

Semoga Allah SWT melancarkan studi kita semua,dan menunjukkan jalan yang terbaik untuk hidup kita.

One thought on “Nikmatnya Jadi Mahasiswa

  1. Iya to, sebenarnya kalau mau dipikir, jadi mahasiswa itu menyandang tanggung jawab moral yang gak ringan. Kan kata pram: seorang terpelajar bahkan haruslah bersikap adil sejak dari pikiran. Ngebayangin tanggung jawabnya aja ngeri, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s