sotoy / Thoughts

Menipu yang Memang Bodoh.

Originally published on my Facebook, 13th May 2013.

Barusan baca kaskus yang membahas penipuan “subsidi bbm” oleh pemerintah terhadap rakyat. Juga mempertanyakan mengapa hasil bumi (minyak dan gas) Indonesia harus dijual mengikuti harga pasar internasional, padahal itu sudah milik kita dari sana-nya, jadi rakyat seyogyanya dapat menerima secara murah.
Masalah ini sudah dari jaman baheula dibahas. Penuh kontroversi, yang pro-subsidi VS yang pro kenaikan harga BBM. Tapi, diantara semua argumen ada satu ‘logika’ yang tertinggal. Supaya tidak serampangan, mari sejenak, sebelum melanjutkan pembahasan ingat bahwa harga suatu barang/jasa itu tidak boleh lebih rendah dari pada biaya produksi-nya. Setuju?

Jadi jangan salah, untuk bisa mengangkat minyak dan gas dari dalam perut bumi keatas itu juga ada ongkosnya. Sialnya, urusan pengeboran dan produksi migas itu bukan urusan gampang. Memerlukan SDM yang handal dan alat-alat canggih. Harga SDM dan alat-alat canggih tadi menentukan biaya produksi, dan akhirnya menentukan harga jual migas tadi.

Ketika SDM dan alat-alat canggihnya dibeli dari luar negeri…..ya otomatis harga-nya juga ikutan harga internasional. Dan inilah realitasnya, coba lihat perusahaan macam SCHLUMBERGER, HALLIBURTON, BAKER & HUGHES….inilah contoh perusahaan yang mensupplai peralatan dan tenaga ahli pengeboran migas. Dan kalo mereka kasih kwitansi ke perusahaan minyak, gak main-main. Bisa lemes kalo tau betapa mahalnya alat dan jasa yang mereka tawarkan. Satu orang drilling engineer rate-nya bisa 1000 USD per hari.

Balik ke paragraf dua, jangan males. Gara-gara kontraktor pengeboran migas itu datangnya dari internasional, maka mereka charge biaya kelas internasional. Ujung-ujungnya harga migas juga ngikut harga luar negeri.

SEMUA HAL INI BISA BERBEDA, bila…..

Seluruh kegiatan migas, mulai dari kegiatan paaaaliiiing awaaaallll…..berhayal kalo ada migas di suatu tempat…..kongkrit melakukan survey seismic, melakukan interpretasi struktur bawah tanah dari data hasil survey, membuat assesment well, trusssss…….panjang urusannya……lebih kompleks daripada merancang resepsi pernikahan paling keren sekalipun……….sampai beneran melakukan pengeboran, dan mengelola sumur-sumur tersebut…DILAKUKAN SENDIRI oleh produk dan tangan manusia Indonesia…….NAH! kalo kayak gini, baru harga migas bisa diatur sendiri.

Bisa gak? Kalo mau ya bisa. Faktanya, sekarang belum.

Atau….gimana kalo kita diemin aja tuh migas dalem perut bumi? Biar orang asing gak dapat untung?? Lagian polusi pula tuh fossil fuel….

Kesimpulan:

– Urusan produksi migas, sarat akan urusan teknis yang sedihnya masih banyak tergantung luar negeri.

– Total biaya investasi dan operasional satu ladang migas sangat gede, walaupun konon balik modalnya juga cepat. Tapi dengan catatan penjualan menggunakan harga internasional bukan harga ‘rakyat’.

– Yang ingin saya soroti disini adalah, bagaimana caranya supaya bangsa Indonesia bisa maju dalam penguasaan teknologi.

Tambahan:

Faktor lain yang membuat harga BBM di Indonesia tidak bisa lepas dari harga internasional adalah bahwa mayoritas minyak bumi indonesia di ekspor, karena kualitasnya bagus (rendah kandungan sulfur). Lalu, untuk kebutuhan sendiri, impor dari negara Arab yang minyak buminya lebih murah. Jadi supplai BBM kita memang sangat terkait perdagangan internasional. Untuk gas bumi, berbeda kasusnya namun dulu penggunaan domestik terkendala kontrak jual-beli jangka panjang dengan Jepang, Cina, Korea. Kini penggunaan gas domestik semakin ditingkatkan, terbukti dengan REGAS yang memberikan penghematan terhadap pengadaan listrik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s