sotoy / Thoughts

Tentang Pajak dan Kontribusi pada Tanah Air

Pemikiran yang mau saya tulis di bawah ini sudah terpendam beberapa minggu dalam benak saya. Barulah setelah membaca tulisan berikut ini di Kompasiana, saya jadi tergerak untuk menuliskannya. Tulisan tersebut membahas tentang apakah sebaiknya seseorang yang sudah menyelesaikan studi di luar negeri pulang atau tidak ke Indonesia. Tentunya terkait dengan semangat “nasionalisme” dan kontribusi/membangun negeri, mereka yang tidak pulang apakah betul memang telah melukai semangat tersebut?

Baca juga artikel singkat mengenai opini Pak Prof. B.J. Habibie terkait topik yang sama di tautan ini.

Saat saya menulis ini, status saya adalah sudah menyelesaikan studi master dan sedang menunggu visa/work permit untuk pergi bekerja di Norwegia (Alhamdulilah mendapat kesempatan). Jadi saya termasuk golongan yang kembali ke luar negeri, mereka yang dipertanyakan komitmennya berkontribusi pada bangsa. Jujur saja, saya memang memiliki semangat berkontribusi tersebut, namun rencana untuk tidak segera pulang juga sudah saya tetapkan sebelum berangkat kuliah dua tahun lalu. Alasan pribadi saya ialah dikarenakan saya ingin membayar pinjaman uang kuliah saya, dan dengan gaji dari perkerjaan di luar negeri hutang ini bisa lebih cepat dilunasi. Selain itu saya juga ingin memupuk pengalaman dan profesionalisme saya dengan harapan ketika nanti pada akhirnya saya menetap dan berkarya di Indonesia saya sudah menjadi seorang pribadi yang betul-betul mumpuni.

Saya pun percaya, bila seseorang pergi ke luar negeri itu adalah sesuatu yang baik. Karena orang tersebut bisa menjadi “pahlawan devisa”, sekaligus tidak memakan jatah lapangan kerja di dalam negeri, dan memperjuangkan nama baik bangsa layaknya agen pemasaran.

Tapi saya pernah terlibat pula dalam suatu diskusi bersama dua orang kawan saya di Norwegia, apakah lebih banyak kontribusinya bila kita diam di luar negeri atau pulang ke Indonesia?

Pada saat itu saya meyakini bahwa dengan pulang ke Indonesia sebetulnya kontribusinya lebih besar, tapi alasan tepatnya masih belum terbayangkan.

PAJAK.

Itulah jawabannya saya kira! Mereka yang hidup di luar negeri tentunya tidak membayar pajak ke Republik Indonesia, dan inilah sebetulnya satu kontribusi yang kongkret untuk bangsa. Uang pajak itulah yang digunakan untuk membangun jembatan, sekolahan, membayar pak polisi, dan tentara, riset tentang bibit padi unggulan, dll. Terlepas dari praktek korupsi di Indonesia, uang pajak tetaplah sumber pemasukan utama negara yang menajdi modal bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Disinilah saya semakin tersadarkan dan salut kepada teman-teman saya yang memilih untuk pulang dan berkarya di Indonesia. Mereka mensedekahkan pajak. Mereka yang berkarya di Luar Negeri boleh meng-klaim mereka tetap berkontribusi untuk bangsa, namun apakah mereka membayar pajak pada RI?

Siapakah pembayar pajak terbesar? Tentunya para perusahaan besar yang menyumbang pajak melalui pajak penghasilan pegawai-pegawainya maupun dari keuntungan perusahaan itu sendiri. Saya pun jadi semakin salut dan berhasrat untuk bisa membangun perusahaan. Hal ini selain membuka lapangan pekerjaan, juga dapat menghasilkan pajak yang besarnya berkali-kali-lipat dibanding jika saya hanya bekerja sebagai pegawai. Para pengusaha sukses adalah kontributor hebat bagi negara!

Berbanggalah mereka yang membayar pajak! Berbanggalah mereka yang berkarya di dalam negeri! Berbanggalah mereka yang membangun perusahaan sendiri!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s